122

1123 Kata

Amel mengernyit saat menemukan ibu mertuanya sudah duduk manis di kursi meja makan. Tumben sekali. Biasanya Ibunda Hang tersebut hanya akan sarapan bersama jika Amel yang meminta. Itupun harus dipaksa. Nenek-nenek bersanggul tersebut selalu menyukai kedamaian di pagi hari dan itu jelas bukan di antara para cucunya. “Ibu tumben?” tanya Amel membuat aktifitas membaca katalog tas Sukma terhenti. “Iya. Ibu lagi pengen makan bareng kalian.” Jawab Sukma sembari menatap menantu cantiknya. Sukmana Tirto tak pernah memandang kecantikan seseorang hanya berdasarkan wajah. Ia melihat manusia secara keseluruhan. Bagaimana perangai dan hati yang menjadi balutan tak kasat mata sebuah raga. Bukan paras dengan dempul dan cat bibir tipis yang sering diklaim sebagai make up natural. Penerimaan Sukma terha

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN