Wooo!! Itu sih mimpi!” sembur Darmanto berapi-api. Ia tak terima jika orang kepercayaan Nyonya Besar, Besarnya lagi mendapatkan si buluk Handoko yang.. Astagfirullah. Darmanto tak sanggup melanjutkan kata-katanya. “Ya kan misal,” koreksi Handoko padahal dalam hati laki-laki itu sudah terbawa perasaan alias baper maksimal. “Kalau gue nikah nanti bini gue juga jadi bosnya dong..” Tubuh Handoko terhenti ketika ia merasakan telah terjadi penabrakan oleh kesalahan pihak lain. Dan, benar saja. Punggung bosnya tersaji di depan mata, menjadi tersangka utama kelalaian dalam berjalan kaki. “Nggak mungkin!” Eh! Darmanto dan Handono tersentak. Mereka berdua kaget karena ternyata dalam keheningan menjadi babysitter anak, laki-laki itu mendengarkan percakapan mereka. “Bapak denger?” tanya Hando

