Amel menelentangkan diri di atas ranjang. Ia terus menghentakan kaki, sekaligus dengan tangannya. Wanita itu kembali mengambil posisi duduk. “Wah.. Ngajak ribut sih sama Mamanya itu bayi! Masa nggak bisa sih biarin Mamanya enak bentar aja!” “Yang dia bawa laki gue loh!” Amel menunjuk pintu kamar yang tadi Hanggono tutup. “Parah banget sih asli!” Seperti orang gila, Amel meracau sendiri. Menumpahkan kekesalan pada makhluk mungil yang sayangnya, anaknya sendiri. Tragis memang ketika sebutan nyonya besar yang tak terkalahkan harus tumbang karena bocah kecil. Mana dia yang melahirkan lagi. Kurang malang apa nasibnya. Amel bergegas turun. Ia tidak terima ditinggalkan sendirian. Niel bahkan tak mengajak dirinya seperti dia meminta Hanggono tadi. Ia tidak ditawari telur, apalagi mie goreng s

