“Kenapa?” Arhan sadar ada yang berubah dari istrinya. Selama perjalanan pulang, wanita itu terdiam. Sesekali masih meresponnya, namun hanya dengan jawaban singkat saja. “Sakit?” Arhan mengulurkan satu tangannya untuk memastikan apakah istrinya tidak enak badan. “Nggak,” Kayra menggeleng, meraih satu tangan Arhan dan menggenggamnya. “Kenapa diem aja?” “Nggak apa-apa,” ia berusaha meyakinkan. “Kalau ada apa-apa, bilang. Jangan diem kayak gitu, aku bukan peramal yang bisa tahu isi hati kamu.” Kayra mengangguk. “Nggak apa-apa, beneran.” Sesampainya di rumah, mereka berbagai tugas. Sungguh menyenangkan bisa berbagi tugas, dari mulai membereskan barang belanja kedalam kulkas, membersihkan sayuran, daging dan buah, sampai akhirnya mereka bisa menikmati hidangan bersama. Kayra berus

