Zarah duduk sambil membuka cermin kecil yang dibawanya, untuk kedua kalinya melakukan re-touch make-up yang mulai pudar karena waktu. Hatinya gelisah, tak sabar menunggu Alister datang. Ini adalah malam yang telah lama ia impikan, kesempatan untuk berkencan dengan pria yang diam-diam ia kagumi sejak lama. Zarah tak bisa menahan senyum kecil yang terlukis di wajahnya saat membayangkan momen itu. Bukan hanya sekali atau dua kali ia membandingkan Alister dengan pria-pria lain yang singgah di kehidupannya. Alister berbeda. Meski Zarah sering dikelilingi laki-laki tampan dan mapan, mereka tak pernah mampu memenuhi kriteria yang ia simpan rapat di hati. Ada sesuatu pada Alister, entah cara bicaranya, tatapan matanya, atau mungkin caranya membuat dunia Zarah terasa lebih berarti. Baginya, Aliste

