Pukul tiga sore, Alister baru saja menyelesaikan pertemuan dengan kliennya yang keempat hari itu. Langkahnya cepat, lelah namun penuh tekad, sementara Juan mengikuti di belakang, merendengi langkahnya dengan sikap penuh hormat. Begitu sampai di kantor, sekretarisnya menyambutnya dari pintu masuk, berbicara dengan cepat mengenai jadwal yang padat. Alister hanya mengangguk, memberi instruksi agar beberapa pertemuan diatur ulang. Setelah itu, ia masuk ke ruangannya dengan langkah mantap, tapi terhenti sejenak ketika melihat Elaina tengah duduk di meja kerjanya. Gadis itu sibuk memeriksa dokumen, namun begitu melihatnya, hanya senyum singkat yang ia tunjukkan. Senyum itu terasa sedikit datar, seolah ada jarak yang tak terucapkan antara mereka. Alister berdiri di ambang pintu, merasakan ketega

