BAB 85

1466 Kata

Ivanka duduk dengan wajah datar, menatap Meriam yang tak henti-hentinya menceracau. Perbincangan mertuanya melompat-lompat, dari soal Elaina yang tak sopan saat makan malam hingga kemarahan Aldian yang meledak-ledak. Ivanka mencoba menyimak, meski pikirannya terus tertuju pada Fidell. Suaminya tidak pulang semalaman, dan ia datang kemari hanya untuk memastikan apakah Fidell ada di rumah mertuanya. Namun, alih-alih menemukan jawaban, ia justru dihadapkan pada tangisan Meriam yang tersedu-sedu. “Saya sangat apes,” pikir Ivanka. Alih-alih mendapatkan kepastian, ia terjebak dalam drama keluarga ini. Napasnya pelan, tetapi ia tahu tak ada gunanya memotong cerita Meriam. Setiap kali ia mencoba membuka mulut, tangisan Meriam kian deras, diselingi keluhan yang tiada henti. Sambil mengusap pelipis

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN