Arbain mengisap rokok yang hampir habis, menghirupnya dalam-dalam sebelum mengepulkan asap yang langsung menyelubungi wajahnya. Di tengah kabut tipis itu, pikirannya berkelana, memikirkan kabar terakhir tentang Aldian. Ia belum memutuskan apakah harus merasa senang atau sedih. Salah satu pegawai rumah Aldian, yang dibayarnya mahal untuk menjadi mata-mata, baru saja memberikan laporan rinci. Informasi itu terasa seperti angin segar, meski diselimuti aroma intrik. Ia tahu adiknya, Aldian, memiliki kebiasaan buruk saat marah. Barang-barang dilempar dan dihancurkan tanpa ampun, meninggalkan jejak kehancuran yang tak terelakkan. Adik iparnya pun tak kalah menarik. Wanita itu dikenal gemar membelanjakan uang dalam jumlah fantastis, termasuk untuk berjudi. Arbain tertawa kecil, membayangkan baga

