“Eliana, aku minta maaf. Aku menyesal kamu tahu tentang aku dengan cara seperti ini.” Eliana mengangkat wajah, tersenyum samar pada Alister. “Seharusnya, aku orang pertama yang tahu, Pak.” Alister menggguk. “Kamu benar, maafkan aku.” “Nggak seharusnya aku dibohongi dengan cara begini.” “Salahku memang.” Eliana meneguk ludah, berusaha menahan air mata yang hendak luruh. Perasaan lelah yang mendera, membuat kepalanya sakit. Ia hanya ingin naik ke kamarnya, makan sesuatu yang hangat dan setelah itu tidur. Bicara dengan Alister tidak termasuk dalam rencannya. “Eliana, kamu boleh marah padaku. Tapi, bisakah kalau rasa marahmu sudah reda, kita bicara berdua? Ada banyak hal yang ingin aku katakan.” “Tentang apa, Pak? Keluarga Gerdiman?” Eliana melepaskan ikatan di rambut dan menyugar denga

