Ivanka melongo, saat mendengar berita dari mertuanya. Bulan depan harusnya menjadi hari bahagia karena ia berulang tahun, tapi nyatanya mereka justru sedang membahas pesta di perusahaan. Ia sudah memberi tanda pada suaminya tapi Fidell terlihat tidak peduli. Sibuk berargumen dengan Aldian. Makin lama pembicaraan, makin membuat Ivanka kesal. “Apa kita harus tetap datang, Pa. Itu bukan pesta untuk kita.” Fidell berkata keras. “Jelas-jelas diadakan untuk menyambut uncle.” “Harus, Fidell. Awalnya, Papa juga nggak mau datang. Sampai akhirnya Papa mikir lagi. Bayangkan saja, sebagian besar klien dan pegawai sudah mengenal Papa daripada Alister.” “Lalu, apa untungnya? Papa nggak takut dipermalukan karena sudah kalah saing dengan adik sendiri?” Aldian menggeleng. “Nggak takut. Kamu tahu kenapa

