“Meriam! Di mana kamu? Cepat keluar!” Aldian yang baru tiba di rumah setelah hari yang melelahkan di kantor langsung berteriak memanggil istrinya. Suaranya menggema di ruang tamu, memancarkan kemarahan yang tak tertahankan. Ia menahan geram, wajahnya memerah, tangan terkepal erat. Sepanjang hidupnya, Aldian belum pernah merasa begitu dipermalukan, terutama oleh seseorang seperti Alister—musuh bebuyutannya. Insiden itu masih terbayang jelas di benaknya, membuatnya sulit bernapas, apalagi berbicara. Yang paling menyakitkan adalah kehadiran Elaina di sana. Gadis itu menyaksikan semuanya, berdiri di sudut ruangan dengan tatapan yang penuh penghinaan. Mata Elaina bersinar dingin, seolah menikmati momen kehancuran Aldian. Ia tahu pasti bahwa Elaina merasa puas melihatnya dipermalukan begitu r

