“Mau apa kamu kemari? Dari mana kamu tahu aku di sini?” Kedatangan Fidell membuat Elaina panik. Mengangkat tubuh ingin memanggil siapa pun yang ada di luar. Ia berusaha meraih tombol untuk memanggil suster tapi Fidell bergerak lebih cepat dan menyingkirkan tangannya. “Ups, santai Elaina. Aku hanya ingin menjenguk.” Dengan tenang, Fidell meraih bel panggilan darurat dan meletakkannya jauh dari jangkauan Elaina, seolah ingin memastikan gadis itu tidak bisa memanggil bantuan dengan mudah. Ia berdiri di samping ranjang, memandang tubuh Elaina yang lemah terbalut perban putih. Di balik ekspresi tenangnya, ada kilatan rasa bersalah yang tak bisa ia singkirkan, meskipun dirinya sendiri sulit mengakui itu. Perasaan iba melingkupi hatinya, seperti selimut tipis yang menutupi ego dan rasa cemburu

