Alister berjalan dengan langkah mantap, membawa Radit menyusuri ruang penuh sesak itu. Kerumunan pengunjung bar malam itu cukup padat meskipun belum begitu larut. Udara di dalam ruangan terasa panas, meski pendingin udara sudah diatur sedemikian rupa. Wangi parfum, alkohol, dan suara musik elektronik yang berdentum mengiringi langkah mereka. Alister dan Radit saling bertukar pandang sejenak, mencoba menyiasati keramaian yang tidak terduga ini. Alister tahu benar, mereka datang pada waktu yang lebih tenang, tapi rupanya bar ini memang sudah mulai ramai lebih awal dari biasanya. “Cukup ramai, ya,” ujar Radit dengan suara datar, matanya menyapu sekeliling, mencari celah di antara pengunjung yang berdesakan. Alister hanya mengangguk, tetap melangkah tegap di depan. Meski sedikit tak nyaman de

