"Eum ... aku benar-benar merindukan aroma khas di tubuhnya." Tanpa peduli dengan tingkahnya yang menimbulkan tanya, Abimanyu tengah menikmati aroma parfum Maura di pergelangan tangannya. Tak sia-sia dia sampai bersandiwara tengah mengalami kehamilan simpatik jika hasilnya begini. Lama, semakin lama dia menghirup aroma parfum itu, otak na-kal Abimanyu bernostalgia dengan sendirinya. Bukan sekadar nostalgia biasa, tetapi bayangan yang beehasil membangkitkan ga-irah terpendam dalam dirinya. Perlahan, bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang kemudian berkembang menjadi kekehan kecil. Potongan memori tentang malam pa-nas yang dia lewati bersama Maura begitu nyata hingga membuat d**a pria itu berdesir seketika. Hanya dengan begini, Abimanyu seolah merasa tengah menci-um dan menyentuh tubu

