“Dok, mungkin kamu bisa berikan alasan logis kenapa Siva melakukan itu padaku?” tanya Nyra tiba-tiba, langkahnya melambat di lorong swalayan yang penuh barang rumah tangga. Tangannya penuh oleh keranjang belanja, ponsel, beberapa perlengkapan pribadi, semuanya dia beli untuk mengganti miliknya yang hilang. Ferrin yang berjalan di sampingnya ikut memperhatikan, sesekali membantu mengambil barang yang terlalu tinggi dari rak. “Lalu pertemuan kami dulu… apakah itu suatu kebetulan atau sesuatu yang sudah direncanakan?” lanjut Nyra pelan, suaranya mulai bergetar di antara rasa penasaran dan takut. Ferrin memelankan langkahnya, menatap wajah wanita itu sekilas. “Aku nggak tahu pasti, Nyra,” ujarnya jujur. “Aku baru sekali bertemu wanita itu di seminar kemarin, dan dari tatapan matanya… aku bis

