Suara sirene memecah sisa kekacauan pagi itu. Darah masih mengalir di sela-sela beton ketika Ellara diangkat ke atas tandu. Wajahnya pucat, napasnya pendek-pendek, tetapi jari-jarinya masih menggenggam mantel Levon seolah dunia akan runtuh jika ia melepaskannya. “Tekanan turun!” teriak salah satu paramedis Levon berjalan di samping tandu tanpa berkata apa pun. Matanya tak lepas dari wajah Ellara. Wajah yang selalu ia kenal tenang, kini rapuh oleh luka dan darah. Untuk pertama kalinya sejak perang ini dimulai, ia merasa benar-benar tak berdaya. "Ella, bertahanlah," bising di telinga Ellara. Di ruang gawat darurat, pintu tertutup keras. Lampu merah menyala terang. Darco Konstantin berdiri beberapa langkah di belakang Levon. Wajahnya dingin, seperti biasa, tetapi rahangnya mengeras. Dan

