Gak ada asap kalau gak ada api. Semua perbuatan akan mendapatkan konsekuensi, itu yang sudah Jihan putuskan ketika ia kembali ke apartemen dengan wajah lesu dan bahu lunglai. Apartemen besar itu kosong, hanya menyisakan dirinya di ruangan ini. Ia bahkan tidak mengisi perutnya malam ini. Rasa lapar serasa menguap begitu saja. Mungkin jika bisa, ia ingin sekali mengamuk, tapi sayang tak mungkin ia mengamuk di tempat ini sendirian. Ya kali, ia harus merusak barang-barang Ivan yang tidak bersalah. "Dasar, semua laki-laki sama saja, mata keranjang sampah!" "Kenapa dulu nikah sama aku, kalau masih jelalatan sama perempuan lain, dua pula! Mentang-mentang dia banyak duit, ganteng!" Jihan masih saja mengomel sendiri. Lalu ia teringat sesuatu. Jihan berjalan masuk ke dalam ke kamar Ivan. "M