5. Kesepakatan

1155 Kata
Keputusan Leana untuk menjadi ibu s**u bagi anak sahabatnya itu sudah diputuskan dan deal tapi dengan syarat, Melvin harus menceritakan perihal Freya, ibu dari bayi itu harus dia ketahui penyebab kematiannya. Leana ingat dan tidak akan pernah lupa kalau Freya memang terlahir lemah, tapi bukan berarti bisa semudah itu dia pergi selamanya bahkan meninggalkan anaknya sendiri. Leana yakin ada sesuatu yang Melvin simpan. “Jika kau mengajukan syarat, aku pun akan mengajukan syarat,” kata Melvin saat mereka kembali bertemu besok nya untuk menjemput sang bayi karena telah diizinkan untuk pulang begitu Leana yakin untuk menjadi ibu s**u bayi Alvaro Rayder, anak Melvin itu. “Apa itu?” Leana bertanya, siap untuk itu asalnya dia mengetahui kehidupan Freya dan Melvin. “Aku akan membahasnya di rumah. Kau ikut ke rumahku hari ini dan membahas syarat itu,” kata Melvin. Leana ingin protes, dia berencana membawa bayi Alvaro ke hotel tempatnya tinggal atau ke apartemen yang telah disediakan oleh Nala. Tapi kedatangan bayi itu bersama Avena dan perawat menghampiri keduanya untuk menyerahkan bayi itu sekaligus berpisah. “Tolong rawat dia dengan baik, Na,” ucap Avena yang bahkan tak bicara formal sambil menyerahkan bayi itu pada gendongannya Leana. Avena mengusap lembut kepala bayi itu. “Sehat-sehat ya kamu, baby. Harus kuat. Ibumu sekarang hebat jadi kau akan tumbuh dengan baik,” ucapnya lalu menatap Leana. “Terima kasih,” ucap Leana. Setelah berpamitan Leana mengikuti Melvin ke mobil lalu ke rumah pria itu. Dia membawa Alvaro yang tidur sepanjang jalan, lelap sekali dan tampak begitu nyaman dalam dekapan Leana. Tiba di sebuah rumah yang cukup besar dengan gaya minimalis dua lantai dengan halam luas yang ditumbuhi banyak sekali tanaman hias, itu mengingatkan Leana pada Freya, sahabatnya itu suka bunga, berbanding terbalik dengan Leana. “Masuklah.” Suara Melvin menginterupsi lamunan Leana. Memasuki rumah paling pertama, sunyi menyambut kedatangannya. Rumah itu didominasi oleh kaca, memperlihatkan pemandangan sekitarnya. Gaya desain rumah itu khas Melvin sekali. “Tidurkan dia di kamarnya, setelah itu kita bicara,” kata Melvin. Leana menurut dan masuk ke kamar yang ternyata khusus untuk bayi dengan dekorasi rapi dengan banyak perlengkapan bayi. Leana menidurkan Alvaro di boks bayi dengan hati-hati sementara Melvin keluar dari kamar, Leana tak memperdulikannya. Setelah menidurkan bayi itu, pandangannya menyapu ruangan itu, menelitinya beberapa saat. “Freya mempersiapkannya dengan baik,” ucapnya memuji. Dekorasi kamar bayi itu bisa Leana rasakan kasih sayang dan perhatian penuh dari Freya. Keluar dari kamar, Leana berjalan menghampiri Melvin yang duduk di sofa ruang tengah. “Aku sudah menyiapkan kontraknya semalam. Jika kau tidak setuju, boleh coret,” katanya to the point. Leana menarik kertas di atas meja itu dan membacanya. Dahinya mengerut kala membaca point pertama. Kontrak Tertulis Mengetahui : Pihak 1 : Melvin Rayder Pihak 2: Leana Violette 1. Kontrak berakhir setelah bayi berumur satu tahun. Selama masa kontrak, pihak pertama akan menanggung seluruh kebutuhan materi dan finansial pihak kedua. 2. Pihak kedua hanya perlu fokus untuk menyusui dan tidak bisa menyerahkan bayinya pada siapapun, dengan kata lain menjadi pengasuh selama 24 jam. 3. Pihak kedua harus menikah dan tinggal di sini. Leana menatap Melvin keberatan dengan point ketiga. “Aku harus menikah denganmu?” tanyanya tak percaya. “Ya, sebagai syarat dariku jika kau menjadi ibu s**u untuk Alvaro, kau akan tinggal di sini sebagai istriku.” “Tapi itu tidak perlu juga, ‘kan, Vin? Aku bisa menyusui Alvaro tanpa harus terikat dengan pernikahan. Jadi itu-” “Aku yang tidak mau, Leana!” Sela Melvin. “Jika kau tidak setuju dengan poin 3, aku tidak akan menceritakan apapun tentang Freya. Aku yakin, kau pasti sangat ingin tahu apa yang terjadi, bukan? Aku pun yakin, kau menyadari sesuatu tentang Alvaro.” Leana diam, dia tahu itu tapi Melvin tak mau membahasnya. Tiba-tiba Leana bimbang, jika dia menikah dengan Melvin, bagaimana Freya? Bukankah sahabatnya itu baru saja meninggal beberapa hari lalu? Bagaimana mungkin Melvin bisa langsung menikah dengannya? “Jika kau keberatan dengan itu, kau bisa mencoretnya tapi aku tidak akan menceritakan tentang apapun. Hanya akan mengawasimu, itu saja,” suara Melvin membuyarkan lamunan Leana. “Vin, haruskah kau melakukan ini padaku?” tanyanya lirih. “Ya. Aku harus melakukannya. Itu caraku mengikatmu kali ini, Leana. Aku tidak ingin kau pergi lagi.” “Tapi aku akan pergi setelah kontraknya berakhir, Melvin. Itu tidak ada bedanya.” “Kau begitu, poin 1 bisa dihilangkan. Kau menikah denganku, menjadi ibu untuk Alvaro dan hidup bersamaku hingga akhir hidupmu.” Pernyataan itu membuat Leana terdiam. Jika dia menikah dengan Melvin, lalu bagaimana dengan Freya? “Tapi-” “Sejak kapan kau menjadi begitu ragu mengambil keputusan, Leana?” Melvin berdecih sinis. Leana menatapnya tak percaya. “Kau pikir ini mudah untukku? Menjadi istrimu padahal aku tidak tahu apa-apa. Padahal kau masih berhubungan dengan Freya. Dia baru saja meninggal, bagaimana mungkin aku mengambil kesempatan itu padahal kubur Freya masih basah?” Melvin diam, menatap Leana yang marah. Napasnya naik turun. “Bagaimana jika aku bilang, dia bukan lagi istriku, bahkan jauh sebelum dia melahirkan Alvaro?” Leana tidak tahu seberapa cepat dia menoleh dan menatap Melvin tajam. “Apa maksudmu?” “Menikahlah denganku jika kau ingin tahu, Na,” katanya. Membuang napas kasar, Leana menatap Melvin lagi. “Apa alasanmu?” “Bukankah aku sudah mengatakannya?” “Itu tidak masuk akal, Melvin!” Leana mengusap wajahnya kasar, tidak habis pikir dengan perkataan Melvin itu. 10 tahun tak bertemu, Leana tak menyangka jika Melvin tetaplah Melvin yang keras kepala, yang kemauannya harus selalu dituruti. Dia lelah tapi di sisi lain dia ingin tahu apa maksud dari ucapan Melvin itu tentang hubungannya dengan Freya? Ada yang salah dengan pernikahan mereka? Menikah dengan Melvin? Sebenarnya, itu bukanlah hal buruk, sisi lain dirinya menginginkan akan hal itu tapi sisi lainnya menolak karena Freya belum lama dikuburkan. Belum lagi harus berurusan dengan keluarga, untuk beberapa waktu itu Leana enggan bertemu keluarganya sendiri. Leana tak masalah Melvin tidak memberikan tunjangan apapun, dia mampu dan punya banyak tabungan meskipun setengahnya dicuri oleh kekasihnya. “Bagaimana? Kau tidak akan menerimanya?” Melvin memecah hening. Leana tak merespon, hanya membaca bari lain di kontrak itu yang seketika melongo. 4. Jika pihak kedua bersedia menikah dengan pihak pertama, tidak ada kontrak tertulis apapun, dan tidak ada rahasia apapun dari kedua belah pihak. Jika tahu begitu, kenapa harus membuat kontrak? Leana pusing dengan sikap Melvin itu. Dia hanya ingin menahan Leana lebih lama di sana, bukan? “Jika ada poin 4, kenapa kau membuat kontak?” tanyanya. Melvin mengedikkan bahunya acuh. Dia melipat kedua tangannya di depan lalu bersandar pada sofa dengan santai, bahkan menumpukan kakinya. “Hanya untuk memancing reaksimu,” katanya. Leana menatapnya tak percaya. “Kau keterlaluan, Melvin!” Tatapan itu dingin mengarah padanya. “Jika tidak begitu, apa kau akan bersedia menikah denganku?” Wajahnya serius, persis sekali dengan kekasih yang tengah melamarnya. Hanya saja tidak begitu romantis, tidak ada perencanaan apapun, hanya menawarkan sebuah kesepakatan yang bingung untuk Leana putuskan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN