4. Keputusan yang Diambil

1141 Kata
“Kenapa?” Melvin kembali bertanya, menuntutnya. “Itu … aku … mmm.” Melvin kembali meraup bibir itu, tak membiarkan Leana ragu untuk menjawab. Tangannya kembali bergerak di sepanjang kaki jenjang Leana yang mengenakan dress selutut. Satu tangannya masuk ke sana, mengusap pelan paha mulus itu yang lagi-lagi dihentikan gerakannya. “Aku bilang jangan ke sana, Melvin,” katanya terbata seiring napasnya yang terengah. “Katakan, kenapa?” Melvin menuntut. Leana menelan ludahnya sendiri, ragu untuk menjawab. “Leana?” “Aku … eughh. Melvin! Hentikan!” Sentak Leana melototkan matanya pada Melvin. “Kenapa, sih, Na?” Melvin tak mengerti dengan penolakan Leana padahal bukankah semalam lebih dari itu? “Itu sakit, Vin. Masih sakit,” ucap Leana pelan memberi tahu. Melvin terdiam. Satu tangannya yang bebas terangkat untuk menyentuh pipi Leana, mengelusnya lembut. Dia teringat pada Leana yang menyusui anaknya tadi. "Ah ... Melvin!" Leana menggigit bibir bawahnya, menahan suaranya agar tak lepas. "Kemana saja kau selama ini, Leana?" Melvin berbisik di telinga Leana tanpa menghentikan gerakan tangannya. "Karena kau kembali, aku tidak akan melepaskanmu kali ini." "Aku ... Oh, Melvin ... Vin, jangan di situ," pinta Leana panik. "Sakit, Vin ... Itu masih sakit. Ah!" Melvin menahan gerakan tangannya di balik dress bawah Leana dan menatap sahabatnya itu cukup lama. "Leana, bagaimana kau bisa melahirkan anak. Apa kau ... Mmmp." Leana membungkam Melvin, tidak ingin pria itu bertanya tentang dirinya sekarang. Namun Leana tahu, cepat atau lambat Melvin akan tahu, pun sebaliknya tentang rahasia yang Melvin Rayder simpan. Permainan itu berakhir dengan Leana yang mendorong kasar Melvin dan turun dari meja di sana. “Aku harus pergi,” kata Leana berbalik tapi lagi-lagi Melvin menahan pergelangan tangannya dan menatap gadis itu. “Kau tak menjawab pertanyaan aku, Na,” kata Melvin. Leana menghela napas. Dia berbalik dan menatap Melvin lalu melepaskan cekalan tangannya. “Tidak sekarang, Melvin. Kecuali kau mau cerita tentang Freya,” balas Leana meminta pertukaran atas cerita kelam dirinya dengan kematian sahabatnya. Kali ini Melvin yang diam dan membuang muka. “Kau menghindari aku, artinya kau tak tersedia. Kalau begitu, sama denganku yang tak akan menjawab pertanyaanmu.” Leana menutup percakapan dan meninggalkan Melvin di sana. Menuruni anak tangga, Leana duduk di salah satu anak tangga di lantai sekian, ddanya sesak, jantungnya berdebar kencang. Berdekatan dengan Melvin, ternyata sungguh tak aman untuk jantungnya. Sejak dulu, Leana mendadak mengidap penyakit jantung bila ada di dekat pria itu tapi sekuat tenaga, sebisa mungkin dia akan menahan dirinya, seperti yang baru saja dia lakukan. “Aku tidak akan membagi ceritaku padamu,” bisiknya lantas pergi dari sana berniat untuk kembali ke hotel yang menjadi tempat tinggal sementaranya. Tapi langkah Leana terhenti ketika Avena memanggil dan sang dokter menghampirinya dengan wajah cemas. “Kami mencarimu tapi tidak ada dimana-mana. Aku pikir kau sudah pergi, Na, soalnya telepon nggak diangkat,” Avena mengatur napasnya. “Ada apa?” tanyanya. “Bayi itu menangis lagi. Dia terbangun dan perawat sudah mengganti popoknya tapi tetap menangis, sepertinya dia lapar. Kami mencoba untuk memberinya s**u yang sudah disediakan, tapi dia menolaknya. Jadi, bisakah kamu kembali untuk menyusuinya?” Leana terdiam mendengar penjelasan Avena. Haruskah dia kembali? “Kumohon, Na. Kasihan anak itu. Sehari setelah lahir, ibunya pergi untuk selamanya. Dia tidak cocok dengan ASI ibu manapun, donor ASI bahkan s**u formula sekalipun. Baru kali ini dia begitu lahap sejak ditinggalkan ibunya, itu darimu.” Anak itu adalah yang dilahirkan Freya, sang sahabat yang entah seperti apa dalam 10 tahun ini. Leana terdiam cukup lama untuk mempertimbangkannya lagi. Miliknya terasa sakit sekarang, jalan ASI nya seperti membengkak, perih sekali seakan anak itu sudah terkoneksi dengan air s**u ibu miliknya. “Baiklah.” Putus Leana yang membuat Avena tersenyum. “Setidaknya demi anak itu, dan demi sahabatku,” gumamnya yang tak dimengerti oleh Avena. Keputusan yang dibuat Leana itu tidak merugikan untuknya juga karena jika air susunya tidak disalurkan, itu hanya akan membengkak dan menyakitinya. Jadi dia akan menekan egonya demi anak itu dan memberikan kehidupan seperti yang dia ucapkan sebelumnya, padahal niatnya pergi tanpa peduli dengan permintaan Melvin tapi rupanya anak itu sudah terkoneksi dengannya. Usai dari ruang khusus itu dan sang bayi tidur, Leana kembali keluar yang lagi-lagi mendapati Melvin di sana. “Ayo bicara,” kata Leana melewati Melvin begitu saja. Pria itu mengikuti hingga mereka berada di taman. Duduk berdua di kursi kayu yang panjang tapi mereka menyisakan jarak yang cukup luas di tengah, saling duduk di ujung. “Langsung saja,” kata Leana. Melvin mengangguk. “Aku bersedia menjadi ibu s**u untuk anakmu, tapi dengan syarat,” dia menatap Melvin, menunggu responnya. “Apa itu?” “Aku tidak mau dikekang. Mulai sekarang, akulah ibunya. Mari buat perjanjian.” Melvin menatapnya tak percaya. “Aku harus melakukannya, kata saja sebagai pertukaran informasi tentang diri kita sendiri. Ada hal yang ingin aku tahu tentang Freya, tentang kau juga,” “Kau tak akan sanggup untuk mendengarkan kenyataannya, Leana. Freya … bukankah seseorang yang kau pikirkan. Dia … banyak berubah, terutama setelah menikah denganku. Kau pasti tahu kalau pernikahan ini adalah rencana orang tua kami.” Sedikit penjelasan itu cukup, cukup melemparkan Leana pada masa itu, 10 tahun lalu alasan dia pergi, alasan dia menghilangkan bak ditelan bumi, dan alasan meninggalkan Melvin adalah karena ikatan itu. “Freya … tak seperti yang kau bayangkan. Kami … aku bahkan tak tahu bagaimana harus menceritakannya padamu.” Wajah itu menunduk. Leana memperhatikan dalam diam dan menyadari bahwa dia pun bukanlah Melvin yang dikenalnya dengan baik. Dia asing, sangat asing seolah kehilangan pijakan. “Ayo buat kesepakatan?” tawar Leana dan Melvin menatapnya. “Aku akan menjadi ibu untuk anakmu, sebagai gantinya aku harus tahu tentang kau, Freya, dan bayi itu. Jika kau tidak mau, maka aku pun tidak akan melakukannya.” Kejam. Satu kata itu untuk Leana. Hanya karena kisah sahabatnya, dia akan membiarkan anak itu begitu saja? “Leana …,” Melvin memanggil tak percaya. “Aku perlu tahu, Vin. Aku perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku pun tahu anak itu … sama sekali tak mirip denganmu.” Kedua mata itu melebar, raut wajahnya menampilkan keterkejutan yang nyata dan reaksi itu cukuplah menjawab Leana atas dugaannya. “Aku tahu dia anak Freya, ada wajah dia di bayi itu. Tapi kau ….” “Dia anakku!” Melvin menatap Leana tajam. “Atas dasar apa kau berkata demikian? Kau tak tahu apa-apa, jadi jangan asal komentar.” “Maka dari itu, katakan padaku ada apa?” “Tidak mungkin, Leana.” “Kenapa tidak, Vin? Aku berhak tahu. Dengan begitu aku bisa menyusui dengan tenang.” “Tapi aku tidak bisa Leana.” “Apa?” “Aku tidak ingin menyakitimu. Aku tidak ingin kau pergi lagi hanya karena cerita yang mungkin akan membuatmu membenci aku, Na. Aku tidak mau kau pergi lagi.” Diam. Leana tak mengerti ada apa dengan Melvin?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN