“Leana?” Melvin memanggil. “Dokter Avena mengatakan padaku, jika anakku menyukai ASI milikmu, setelah beberapa hari tidak bisa minum s**u apapun untuk asupan, baru kali ini dia begitu lahap,” lanjut Melvin. “Jadi -”
“Aku tidak bisa!” Potong Leana cepat dan menatap Melvin. “Cukup itu saja, aku tidak bisa menjadi ibu s**u untuk anakmu.”
“Kenapa?”
“Aku … .”
“Jika kau ragu karena aku, itu tidak perlu. Aku memintamu bukan untukku tapi untuk anakku. Jadi aku mohon, bahkan sekalipun kau menolak. Aku akan mengupayakan apapun agar anakku bisa mendapatkan asupan yang lebih baik,” jelas Melvin melihat keraguan Leana itu.
Leana menatapnya hanya sesaat, hatinya berdesir setiap kali melihat wajah itu. Di siang hari seperti ini, Leana bisa dengan jelas menatap wajahnya yang masih sama seperti 10 tahun lalu, tapi tentu saja, ada yang berbeda dari sana. Guest lelah dan kantung mata itu tampak jelas.
“Jika kau bisa menyusui anakku, aku akan menyerahkannya padamu. Tapi tentu saja, aku akan mengawasi,” tambah Melvin.
Leana kembali menatap Melvin, kali ini beberapa saat sebagai respon atas ketidakpercayaan yang dikatakan Melvin itu, mengawasi? Bukankah itu sama saja dia tidak akan bisa lepas dari Melvin?
“Aku … .”
“Aku mohon, Na. Setidaknya demi Freya,” kata Melvin.
Seketika nama itu menarik perhatian penuh Leana, menatap Melvin dengan dahi mengerut.
“Apa maksudmu?” tanyanya menuntut.
Melvin menghela napas, dia menyugar rambutnya tampak frustasi.
“Bayi itu … adalah anak Freya,” jawab Melvin.
Leana terdiam, pikirannya berputar. Jika bayi itu adalah anaknya Freya itu artinya istri Melvin adalah dia? Sahabatnya itu saling menikah akhirnya? Lalu jika ibu dari bayi itu meninggal, itu berarti … “Tidak mungkin?” tatapan Leana nanar mengarah pada pria itu yang menunduk dalam.
Langkahnya mundur, limbung. Kepalanya berputar. Apa ini? Leana tak mampu menerima potongan puzzle lain yang baru dia dapatkan.
“Leana?”
Tangan Leana terangkat, menolak bantuan Melvin yang hendak menahan dirinya yang limbung.
Jika ibu bayi itu meninggal. Itu artinya Freya … air mata Leana seketika terjun begitu saja, pandangannya mengabur dia berbalik tapi kalinya lemah yang kemudian nyaris saja terduduk di lantai kalau tidak ada sepasang tangan menahan tubuhnya.
Freya ….
“Maaf,” bisik itu lebih menyayat hati Leana. “Maafkan aku Leana,” ucapnya di belakang telinganya.
Untungnya, koridor itu sepi, hanya ada mereka berdua saja di sana.
Melvin menahan Leana dari belakang, melingkarkan kedua tangannya di pinggang gadis itu, menahannya agar tidak terjatuh ke lantai.
Air mata itu luruh tanpa isakan, hanya tatap kosong yang tak percaya akan kabar itu.
Bayi malang itu adalah anak dari sahabatnya?
Leana tak percaya, tak ingin percaya pada apa yang dia dengar. Dia berbalik, berhadapan dengan Melvin tanpa tanpa melepas kungkungan tangan kekar itu dari pinggangnya.
“Kau bohong, ‘kan?” tuduh Leana.
Melvin menunduk, tak menjawab.
“Katakan padaku, itu bohong, ‘kan?” Dia kembali bertanya tapi tidak ada jawaban apapun dari pria itu. “Melvin!”
Kali ini gelengan kepala yang Leana dapatkan sebagai jawaban. Tapi dia menolak percaya.
“Tidak. Kau pasti bohong. Itu pasti salah.” Leana menolak percaya sebab saat itu juga rasa bersalah menyusupi hatinya.
Sahabatnya, meninggal tanpa dia tahu apa penyebabnya. Tanpa dia pernah sekalipun bertemu. Tanpa dia tahu bagaimana kehidupannya.
Leana memejamkan mata, tangannya terangkat dan memukul dda Melvin kuat.
“Katakan kau bohong!” Air matanya kembali mengalir, pikirannya berputar, benaknya menampilkan sosok itu, Freya Miliani. Cantik, lembut dan senyuman tentangnya mendadak berputar. Kebersamaan yang telah hilang karena suatu hal yang dipaksa hadir meregangkan ikatan yang terjalin. Meski begitu tetap saja, rasa bersalah dan penyesalan membuat Leana tak mampu berkata.
“Leana?” Melvin memanggil, mengusap lembut pipi Leana yang basah. “Maaf,” ucapnya pelan.
“Hentikan,” pinta Leana lemah.
Melvin tak mampu menahan bendungan di matanya melihat Leana menangis. Dia menarik gadis itu dalam dekapannya, membiarkan tangisnya pecah di sana. Rasanya sakit sekali.
Namun, Melvin tiba-tiba terdiam ketika pikirannya teringat dengan kejadian semalam saat dirinya dalam pengaruh minuman.
“Lepas,” pinta Leana berusaha melepaskan diri dari Melvin. “Aku harus pergi,” ucapnya dan berbalik, memaksa diri pergi dari hadapan Melvin. Leana tak mampu, dan tidak ingin terlena dalam dekap hangat yang nyaman itu. Dia tiba-tiba takut dengan perasaannya sendiri.
Namun, begitu Leana hendak berbelok. Tangannya tiba-tiba ditarik. Dia terkejut dan menatap si pelaku yang menarik tangannya itu dengan kuat.
“Apa yang kau lakukan?” Leana bertanya marah pada Melvin.
Tapi pria itu tak mengatakan apa-apa dan terus menarik tangan itu entah ke mana. Leana berontak pun tak digubrisnya. Terus menarik tanpa peduli ringis kesakitan Leana di tangannya. Bahkan di dalam lift pun Melvin diam, abai, terus mencekal pergelangan tangan Leana, tak peduli dengan pukulan gadis itu.
Hingga tiba di sebuah atap yang sepi di rumah sakit itu, barulah Melvin melepaskan tangan Leana.
“Kau gila!” Sungut Leana marah, menatap Melvin nyalang sambil mengusap pergelangan tangannya yang terasa sakit.
Tapi di depannya, Melvin tampak berbeda, wajahnya merah dengan dahi mengerut dalam.
“Kau … kapan kau kembali?” tanya Melvin dengan suara yang meninggi.
“Itu bukan urusanmu. Aku kembali atau tidak, kau tak perlu tahu!” jawab Leana. Emosinya tersulut, menatap Melvin tajam.
Melvin mengacak rambutnya. “Bagaimana mungkin? Kau … kau tidak … tak mungkin!” Sangkal Melvin, menggelengkan kepalanya kuat, mengusir bayangan yang mendadak hadir di kepalanya. Meski mabuk, Melvin masih bisa mengingat apa yang terjadi.
Leana tak peduli, dia menatap pergelangan tangannya yang memerah. Dia mendelik tajam pada Melvin yang mengusap wajahnya gusar. Dia bahkan mengacak-acak rambutnya sendiri membuat Leana menatapnya tak mengerti.
“Leana,” panggilnya kembali menatap gadis itu. “Tolong jawab, kapan kau kembali? Bagaimana mungkin kau … kau tidak mungkin menemui aku di tempat itu, ‘kan?”
“Kenapa? Kau sendiri yang meminta aku untuk datang,” jawab Leana tanpa sadar. Emosi membuat Leana menjawabnya demikian yang membuat mata Melvin terbelalak.
“Jadi … itu memang, kau?” tanyanya tak percaya.
“Aku apa? Kau pikir aku datang ke tempat itu untuk siapa? Kau pikir aku akan datang ke sana jika orang lain yang meminta? Andai saja kau tidak mengirimkan pesan, aku tidak akan datang. Tubuhku bergerak sendiri dan ketika tiba aku tak mungkin meninggalkanmu begitu saja di sana. Kau mabuk jadi aku … mph!”
Seluruh kalimat penuh emosi Leana terbungkam begitu saja oleh benda kenyal milik Melvin. Tanpa menunggu, tanpa membiasakannya lebih dulu, dia meraupnya begitu saja, menyesapnya kuat bahkan menolak berhenti meskipun Leana berontak. Sebaliknya, Melvin menahan kedua tangan Leana, mendorong tubuh mungil itu hingga membentur tembok.
Tak mungkin mengalahkan tenaga Melvin, Leana akhirnya diam, tangannya dibiarkan dikunci Melvin, bibirnya dimainkan kasar oleh pria itu tapi rasa itu tersampaikan dengan lembut bersama rindu yang mulai terkikis perlahan. Ciuman itu, mereka dengan kesadaran penuh melakukannya.
Langit mendung dengan dinginnya angin tapi mereka yang terengah tak sekalipun merasakan dinginnya. Napas mereka saling beradu tapi tatapan itu tak lepas dari Leana. Bahkan kedua tangan kekarnya tak diam.
“Jangan, Melvin,” tolak Leana menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?” Suara berat Melvin terdengar begitu menggoda.
“Tempat ini … mmph!” Melvin membungkam lagi, tak ingin mendengar protes Leana. Perasaannya terlalu menggebu, teringat dengan yang dilakukan semalam pada Leana, bermain dengan gadis itu yang merupakan sahabatnya terasa begitu menyenangkan dan nyaman.
Tak peduli dimana sekarang berada, yang penting sepi dan tidak ada yang melihat, tidak punya ada Cctv. Seakan Melvin tahu tempat itu tenang, seakan sudah terbiasa datang. Dia menuntun Leana duduk di sebuah meja di saja, menaikannya tanpa melepaskan pagutan dari bibir Leana yang mengalungkan tangannya di leher Melvin.
“Ah! Melvin!” Leana melepas pagutan itu paksa, satu tangannya bergerak cepat menghentikan gerakan tangan Melvin yang menatapnya. “Jangan … tidak. Jangan ke sana,” katanya pelan sambil mengatur napasnya yang terengah.
“Kenapa?”
Leana hanya menggelengkan kepalanya.