Aku menatap Kak Satria yang tidur pulas di sampingku. Setelah memastikan bahwa ia benar-benar tertidur, tanganku menjangkau HP. Si Sinting. Tekan. "Ini aku, istrinya." "Oh. Tolong sampaikan bahwa aku ada penting dengannya. Ini masalah bisnis. Tolong dia nanti suruh menghubungiku, ya. Penting sekali." Pesanku sambil melirik Kak Satria. Jantungku berdetak cepat saat bersitatap dengannya yang ternyata tengah berbaring miring memperhatikanku. Padahal tadi ia benar-benar pulas. "Kamu telepon siapa?" tanyanya sambil mendekat. "Aku barusan telepon temanku, Kak. Ndak perlu cermburu," sahutku saat ia ikut menatap layar HP. Bersyukur karena nama Kak Dewa di sini adalah Si Sinting. Bukan tanpa alasan aku menamainya demikian. Saat aku masih jadi kekasih Mas Rasya, ia sering bergurau mengajakku ke

