POV Mira Kutatap jam dinding, sudah jam 8 lewat, tapi Kak Satria tak juga datang menjemput. Padahal saat mau berangkat kerja tadi pagi, ia mengingatkan agar aku bersiap sehingga ketika ia pulang kami langsung berangkat. Kuraih HP, sesaat menimang sebaiknya menghubunginya atau tidak. Bisa-bisa, ia besar kepala jika aku menghubunginya lebih dulu. Tapi menunggu tanpa kepastian, sungguh menjemukan. Dengan malas, kutekan nomernya. "Halo," ucapku begitu terhubung. "Kak, sudah di mana? Apa kita jadi pergi?" Hening. "Kak?" "Ini Ibu." Jantungku berdegup kencang mendengar suara Ibu. Kenapa HP Kak Satria ada pada Ibu? Apa ia mampir ke sana lebih dulu barulah ke sini? "Mira, suamimu pasti sudah cerita kan, kalau ibu berniat menjodohkannya dengan temannya?" Untuk sesaat, aku tak bisa berkata

