Rima menatap album foto pernikahannya dengan wajah sendu. Matanya berkaca-kaca seperti akan menangis, tapi bibirnya melekuk senyum. Ada haru juga sedih saat mengingat semuanya, tak menyangka lelaki yang selama ini begitu setia tak lagi menemani. Sudah pergi begitu jauh. Jauh, sekali. Ini semua tak luput dari keegoisan menantunya itu. Semua gara-gara Rasya. Ia yakin seandainya Rasya mau bersabar sedikit saja dan tak pergi membawa anaknya, tentu tak seperti ini jadinya. Tentu suaminya masih hidup dan perusahaan kembali normal. Menantu durhaka. Anak arogan itu bahkan sampai membiusnya. Ia masih tak habis pikir Rasya berani kurang ajar padanya. "Ma." Suara Hanif membuatnya menoleh. Anak lelakinya itu berdiri diam di ambang pintu kamar dengan wajah ragu. "Katakan saja," ucap Rima tak bersem

