Aroma antiseptik yang tajam menyengat indra penciuman Raka saat ia pertama kali membuka matanya. Langit-langit ruangan yang putih bersih tampak berputar sejenak sebelum perlahan berhenti dan menampakkan sosok yang paling ia rindukan. Amara duduk di samping tempat tidurnya, mengenakan gaun sutra berwarna sampanye yang membalut tubuhnya dengan sempurna, namun matanya yang lelah menunjukkan bahwa ia telah terjaga selama berpuluh-puluh jam. "Kau kembali," bisik Amara, suaranya parau karena emosi yang tertahan. Raka mencoba menggerakkan bibirnya yang kering, namun rasa sakit yang tajam dari perutnya membuatnya mengerang pelan. Amara segera berdiri, mendekatkan wajahnya ke wajah Raka, memberikan kenyamanan yang sudah lama tidak dirasakan pria itu. Jemari Amara yang lembut mengusap kening Raka,

