BAB 18: PERMATA DI BALIK LUMPUR

1094 Kata

Mesin SUV hitam itu menderu menembus kabut pagi yang menyelimuti jalanan menanjak dari arah Gunung Salak menuju Bogor. Di kursi belakang, Leo akhirnya tertidur karena kelelahan yang luar biasa, kepalanya bersandar pada bantal kecil yang ditemukan Amara di mobil. Raka duduk di samping Amara, napasnya pendek dan sesekali terdengar rintihan menahan nyeri dari luka di perutnya. Amara sendiri mencengkeram kemudi dengan sangat erat, matanya merah karena tidak tidur, namun fokusnya tidak goyah sedikit pun. "Kita harus ke rumah sakit, Raka," ujar Amara tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan yang berkelok. "Jangan ke rumah sakit umum," sahut Raka dengan suara serak. "Orang-orang Arlan pasti sudah memantau semua unit gawat darurat di sekitar Bogor dan Jakarta. Bawa aku ke klinik pribadi milik dr

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN