Ujung hidung yang menggosok perut Lia membuyarkan konsentrasinya dari layar ponsel. Lia menunduk, mendapati Deni yang terus saja mengganggu janin mereka. “Kak?” tegur Lia. “Hmm?” “Udah bangun?” “Iya. Itu soangnya berisik.” “Angsa, Kak,” kekeh Lia. “Sama aja. Chatting sama siapa, Sayang?” “Bang Ian.” “Oh. Sudah ada kabar?” tanya Deni seraya bangun dari posisinya lalu menyampirkan sweater Lia kembali ke bahu sang istri. Sementara Lia, menyerahkan ponsel di genggamannya pada Deni. Deni membaca rentetan obrolan yang terpampang seraya mengingat detail apa yang terjadi di kantor polisi hari itu. “Sudah tanya Ibu? Papa?” tanyanya kemudian. “Belum. Kak Deni kan keburu bangun.” Deni mengangguk. Ia lalu menggulir deretan id di aplikasi chat-nya. Mengetuk chat room-nya dengan Dzaki. Deni