“Hai, Vir,” sapa Deni singkat dengan raut datar. Menorehkan luka kecil di hati sang penegur. “Sorry, ada yang harus saya hubungi,” ujar Deni kemudian. Ia beranjak menjauhi perempuan itu, duduk di sebuah kursi taman. Vira nama panggilannya, salah satu sepupu jauh Deni. Garis darahnya dihubungkan oleh Dzaki dan Ibu Vira yang memilki satu nenek. Kekehan sinis tersuarakan, kini Vira benar-benar tersinggung oleh sikap Deni. ‘Gila sih, dari dulu ngga berubah!’ Ia melenggang, urung masuk ke dalam perpustakaan dan justru melangkah pelan menyambangi Deni. ‘Kita lihat, sehebat apa sih lo? Celah lo yang mana yang bisa gue manfaatin?’ “Gue lagi ngga di tempat private. Nanti gue hubungi lo lagi ya, Bang? Tapi sementara gue setuju sama yang lo bilang tadi.” “….” “Oke, Bang.” “….” “Wa’alaikumsalam