Tak terasa, sudah seratus hari, Raka, dan Tari pergi untuk selamanya. Namun, kehadiran mereka masih terasa di rumah. Cantika seringkali masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya. Duduk diam, di tepi ranjang, sambil menatap foto keluarga yang tergantung di dinding. Asifa yang sering kali menghibur Ammanya. Asifa tidak lagi membantu Aska di ruko, ia fokus untuk menggantikan Cantika mengurus rumah, dan membantu Soleh di pabrik Keripik. Sore ini, Cantika kembali duduk di tepi ranjang, di kamar orang tuanya. Asifa masih di pabrik keripik bersama Soleh. Asila menemani Rara menonton televisi. "Abba!" Suara Rara yang memanggil Abbanya, menyadarkan Cantika dari lamunan. Ia beranjak dari duduknya, dan menuju pintu kamar. Tampak Rara digendong oleh Aska. Cantika, merasa melihat Abbanya dalam sosok