Opir maju dengan jalannya yang sedikit sempoyongan. Revan menarik tangan Opir, lalu melesakan tendangan ke s**********n Opir. Opir menjerit, ia memegangi dua balonnya yang terasa bagai pecah. Dardi berteriak memaki Opir. Ia maju berdua dengan Udin. "Berhenti!" Aska datang, ia memarkir motornya. "Ooh, satu lawan satu." "Kalian tidak malu ingin mengeroyok anak kecil? Sebaiknya masalah ini jangan diselesaikan dengan kekerasan. Bisa kita bicarakan." "Mereka harus minta maaf pada Acil Sila, Paman! Acil Sila menangis karena mereka!" "Abang Revan, sekarang kamu pulang ya, biar Paman yang bicara dengan mereka." "Tidak mau! Mereka harus ikut ke rumah, dan minta maaf pada Acil Sila." "Iya, Paman mengerti, sekarang Abang Revan pulang duluan ya," bujuk Aska. "Tidak mau, Abang Revan tidak ak