5. —Anne Li x Annesa Lidya

1404 Kata
Suara denting sendok dan piring juga gumaman obrolan yang samar terdengar menjadi latar suara diantara keheningan mereka. Tama belum mau menjawab. Dari apa yang dilihatnya, Nesa punya banyak hal yang ingin dikatakan. Tama tahu ada banyak sekali hal yang belum mereka selesaikan, yang belum dibicarakan. Jadi, kali ini ia akan memberi waktu untuk sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya. Ngobrol. Bicara berdua, membahas hal apapun itu. Tama sadar diri kalau ia tidak pernah punya waktu sebanyak itu untuk Nesa. Kali ini ia memberi gadis itu semua waktunya. Ia akan menunggu dan mendengarkan apapun yang ingin dikatakannya. “Ucapan aku di video itu bener-bener kurang ajar. Mama juga bilang kalau aku udah salah dan harus meminta maaf sama kamu, Mas.” Nesa melirik Tama yang masih tidak bersuara. Tatapan suaminya itu bahkan terasa menakutkan sekarang. Ia merasa diintimidasi dengan tatapan itu. Padahal tidak ada yang salah dengan tatapannya. Padahal Tama menatapnya dengan seulas senyum tipis di ujung bibirnya itu. “Mama bilang aku gak bersyukur, mama bilang harusnya aku gak usah ngomong macam-macam, dan mama bilang aku harusnya bersujud minta pengampunan,” setiap kata yang keluar dari mulutnya, semakin kecil volume yang dipakai Nesa. Sebelah alis Tama terangkat, “Apa?” tanyanya tak percaya. Mata Nesa menatap Tama yang meminta penjelasannya, ia berkedip, “Mas juga pikir itu berlebihan, kan? Masa mama minta aku sujud buat dimaafin? Terus kata mama apa lagi coba?” tanyanya dengan lebih semangat. Tatapannya yang ekspresif dan tangannya mulai ikut bergerak. Merasa dibela dan pemikirannya disambut. “Mama bilang apa?” tanya Tama. “Aku kan bilang kalau aku gak dimaafin dan diusir sama Mas, aku mau pulang lagi ke rumah. Aku bilang kalau aku akan nerima apapun keputusan suami aku. Pisah ya udah pisah. Aku terima. Tapi mama bilang aku gak boleh pulang ke rumahnya. Mama usir aku sebelum suami aku yang ngusir aku!” Nesa menarik napas setelah mengatakan kalimatnya dengan menggebu. “Aku diusir!” ulangnya dramatis. Tama menggeleng, “Saya gak akan usir kamu,” ucapnya tenang. “Bukan itu poinnya, Mas, tapi mama yang gak punya perasaan udah ngusir aku kayak apa banget," Nesa masih menggebu. Tama tersenyum. “Dari awal aku udah gak didengar, protes aku dan curhatan aku dianggap angin lalu. Padahal aku bilang yang sebenarnya. Tapi mama gak mau ngerti. Setelah semua ini mama masih ngusir aku sekali lagi,” Nesa bersungut-sungut. Jelas sekali wajah kesalnya itu tergambar dalam emosinya. Tapi bibir manyun-manyunnya ia lipat segera saat melihat Tama yang menatapnya dengan senyuman yang aneh bagi Nesa. Rasanya asing. Aneh. Menumbuhkan kebingungan di kepalanya. Juga pertanyaan kenapa ia bisa dengan ringannya menceritakan obrolannya dengan mamanya begitu saja pada Tama. Jelas kalau ini ada kali pertama mereka duduk berdua dan bicara. Ia malah menunjukan hal yang tidak seharusnya ditunjukkan. Cerewetnya. Nesa mengakui itu. Juga jadi hal yang membuatnya kesal selama ini. Nesa tahu diri kalau ia cerewet dan suka bicara, Tapi begitu ada di rumah yang sepi, dengan suami yang bahkan tidak mau mengajaknya bicara, ia merasa tidak hidup. Ia merasa tidak dianggap dan di dengar. Tapi sekarang, setelah berada di rumah itu selama hampir dua tahun. Setelah mamanya dengan tegas bilang kalau ia tidak kembali diterima di rumah keluargannya sendiri. Ia juga memikirkannya. Harus kemana jika Tama benar mengusirnya? “Bilang sama mama, saya gak akan biarkan kamu pergi,” tegas Tama, “kamu gak harus pergi ke hotel atau kemanapun. Kamu akan tetap ada di rumah kamu sendiri.” Tatapan Nesa kembali tidak percaya. “Sungguh. Itu rumah kamu, untuk apa kamu pergi?” Tama tersenyum. Senyumnya menular, Nesa mengembangkan senyumannya dengan lebih lebar. Pipi bulatnya naik dengan mata cemerlang yang cantik, “Aku gak diusir? Beneran?” tanyanya tak percaya. Tama mengangguk, “Memangnya kenapa saya harus mengusir istri saya dari rumahnya sendiri?” Senyum Nesa menghilang. Diganti tatapan melongo yang membuat Tama terkekeh pelan. Sudah lama tidak melihat beragam ekspresi di wajah istrinya itu. “Tapi aku udah jahat.” Kepala Tama memiring menatap perubahan ekspresi di wajah cantik itu. Padahal senyumnya tadi cantik sekali. Tapi secepat itu senyumnya berganti kembali jadi sendu dan ragu-ragu. “Kenapa jahat?” Nesa mengulum bibirnya, menggigit kecil bibir bawahnya, berpikir apa sekarang waktu untuknya mengungkapkan apa yang selama ini ia sembunyikan. “Aku udah bohong,” Nesa mengangkat kepala, melihat kembali pada wajah Tama. Mencari tahu apa yang akan terjadi jika ia mengakui satu rahasianya. “Aku udah menutupi hal yang harusnya aku kasih tau sejak awal. Aku menutupinya. Aku gak jujur sama kamu, Mas. Aku gak bilang yang sebenarnya kalau aku ini Anne Li,” ungkap Nesa. Ia mengakui bahwa apa yang diungkapkan di dalam video itu benar adanya. Bahwa ia adalah Anne Li. Seorang penulis novel romance yang buku-bukunya diterbitkan oleh Djati Media. Ya, oleh perusahaan suaminya sendiri. Hanya ada dua orang yang tahu bahwa ia adalah Anne Li. Jebi, sahabat Nesa yang juga jadi managernya, dan Mama. “Maaf, Mas. Aku menyembunyikan ini dan bikin kamu yang gak tau apapun jadi ikut terseret kasusnya. Aku udah bikin citra kamu jadi jelek. Padahal mas gak tau apapun. Pihak kantor Djati Publishing juga gak tau siapa aku. Tapi mas malah terseret dan dituduh membenarkan nepo.” “Kata siapa?” “Hah?” Nesa tidak mengerti apa maksud pertanyaan itu. “Kata siapa saya gak tau?” Netra cokelat Nesa kembali berkedip. “Saya tau kamu itu Anne Li, sejak awal,” jelas Tama. “Sejak kamu dan Jebi menemukan nama pena untuk kamu.” “Hah?” “Saya ada di sebelah meja kamu dan Jebi saat kalian membicarakan nama yang cocok untuk kamu pakai.” Nesa makin tercengang saat Tama melanjutkan ucapannya. “Itulah sebabnya saya merasa tidak perlu marah dan mengusir kamu dari rumah. Pertama karena saya sudah tau kalau kamu Anne Li. Kedua, karena kamu adalah nyonya rumah kita. Bagaimana saya bisa mengusir nyonya rumah saya sendiri?” -- “Saya masih punya pekerjaan, kamu turun duluan aja,” ucap Tama setelah menghentikan mobilnya di depan rumah. Satu rumah di cluster yang berisi rumah-rumah bergaya american clasic yang didominasi warna putih. Palisade Tama berhenti di depan rumah dua lantai bernomor A04 itu. Ada taman kecil di depan rumah yang dipenuhi rumput, sebuah pohon ketapang kencana sudah tinggi jadi centernya, dengan rimbun aster merah yang ditanam memanjang jadi pembatas dengan area carport. Merci putih Nesa sudah terparkir dengan rapi di sana. Tidak perlu lagi heran, Nesa sudah bisa menebak kalau Kaiv yang mengambilnya dari rumah mama. Nesa mengangguk, ia sudah kehilangan kata-katanya sejak di Masillia tadi. Tertohok sekali dengan kenyataan yang menerpa dirinya seperti itu. “Makasih makan malamnya,” ucap Nesa sambil melepas seatbelt. Rasanya ia mau cepat-cepat pergi saja. Sudah tidak bisa lagi ia berkata apa-apa. Sungguh. “Maaf membuat kamu kesulitan hari ini,” ucap Tama sekali lagi. Nesa menggeleng, “Aku yang udah buat Mas kesulitan, harusnya aku yang minta maaf.” “Kamu udah minta maaf tadi,” Tama menjawabnya dengan seulas senyum. Meraih picotin biru mudanya, ia menoleh pada suaminya yang sore ini terasa berbeda. “Kalau gitu makasih,” ucapnya kemudian. Senyum Tama naik sampai ke matanya, “Kamu juga udah bilang makasih,” jawabnya. Bibir Nesa maju manyun-manyun mendengar jawaban Tama yang mempermaikannya. Dengan pipi menggembung dan lirikan matanya pada Tama, ia mendengus kecil, “Kok aku diledekin terus, sih, Mas?” keluh Nesa yang sedetik kemudian menutup mulut dengan tangan kanannya. Tentu saja nada itu juga mengejutkan Tama. Ia salah tingkah sendiri dengan nada suara yang dipakai Nesa padanya. Sedangkan yang menggunakan nada manja tidak pada tempatnya itu masih menutup mulutnya dengan mata mengerjap-ngerjap. Tangan kirinya merayap pada pintu, meraih tuas dan menariknya. Pintu terbuka dan Nesa menghela napas, ia memberanikan dirinya sekali lagi. “Beneran, maaf, itu tadi gak disengaja, aku cuma kebawa situasi aja,” dalihnya dengan kaki kiri sudah menariknya untuk keluar mobil. “Hati-hati dijalan, aku turun. Makasih sekali lagi,” ucapnya cepat-cepat lalu berbalik dan turun dari mobil, menutup pintu, dan berlari melewati mobilnya di carport juga taman aster miliknya. Berhenti di depan pintu untuk menekan pin. Nesa sempatkan melirik palisade Tama yang masih diam di tempatnya sebelum mendorong pintu terbuka. Masih dengan jantung berdegup cepat dan muka terasa panas, ia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Berdiri di balik pintu dengan mata terpejam. Mengutuk diri sendiri yang bisa-bisanya menggunakan suara manja seperti itu pada Tama. Apa yang bisa dipikirkan lelaki itu coba? “Ih, Annesa!” geramnya pada diri sendiri. --
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN