“Saya juga mau minta maaf,” ujar Tama saat tidak mendengar jawaban dari gadis di sampingnya.
“Apa-“ Nesa mengerjap saat mobil berhenti di parkiran. Tempat yang ia kenal. Karena ia sudah sering bolak-balik kemari. Nesa menoleh pada Tama, “mau apa kesini?” tanyanya lalu langsung lupa ucapan Tama tadi.
“Makan,” jawab Tama sambil membuka seatbelt. Lelaki itu menoleh pada Nesa dan tersenyum, “Tempat favorit kamu, kan?”
Benar. Nesa mengangguk. “Dari mana Mas tau ini tempat favorit aku?”
Tama kembali terhenyak dengan panggilan Nesa padanya. Sudah lama ia tidak mendengar panggilan itu dari bibir mungil di depannya. Baru saja bibirnya terbuka akan menjawab saat Nesa mengangguk-angguk.
“Tau dari Kaiv, kan?” todong Nesa.
“Kalau saya bilang tau sendiri kamu gak akan percaya, kan?” balas Tama.
Bahu Nesa terangkat pelan.
“Ayo makan dulu, baru kita bicara,” ucap Tama yang langsung membuka pintu disisi pengemudi.
Nesa menunduk menatap tangan yang bertautan di pangkuannya. Ia menghela napas dan mengangguk. Baiklah, pikirnya, seperti yang tadi dikatakannya pada mama. Jika Tama memang mau membicarakan apa yang harus diterimanya sebagai akibat dari videonya itu, ia akan terima.
Perceraian misalnya.
Nesa akan menerimanya. Mungkin ini memang jalan yang dibuat Tuhan untuk membebaskannya dari semua perasaan tidak berdaya ini. Mungkin skandal rekaman suaranya dan terungkap siapa sebenarnya dirinya adalah jalan untuk bisa melepaskan diri. Karena sungguh, ia juga tidak bisa terus membuat Tama terikat dengannya dengan terpaksa seperi sekarang.
Sungguh, Nesa berani bersaksi kalau Tama adalah lelaki yang baik. Selama menjadi istrinya, ia tidak pernah memikirkan apapun. Sebenarnya, jika ia pikirkan lagi, perannya sebagai istri dari Tama memang tidak begitu terlihat. Hanya saja lelaki itu selalu punya cara untuk membuatnya nyaman.
Merci-nya, rumah nyaman yang ditinggalinya, ruang kerjanya yang khusus dibuat dengan lemari buku full di satu sisi dindingnya, asisten rumah tangga yang membantunya mengerjakan semua pekerjaan rumah, uang bulanan yang selalu masuk ke dalam kartu yang dipegangnya, sebuah kartu lagi yang Tama bilang sebagai nafkahnya.
Benar. Tama membedakan uang bulanan untuk opersional rumah dan uang untuk nafkahnya sendiri.
Mungkin karena Tama juga pemilik perusahaan percetakan tempatnya menerbitkan novel, jadi ia tahu pendapatan penulis tidak sebesar gajinya sebagai CEO. Meski Nesa mendapatkan banyak uang dari royalti diangkat ke layar lebar. Tetap saja tidak bisa menandingi gaji suaminya.
Nafkah lahir memang dipenuhi Tama dengan utuh.
Tapi batinnya lelah dalam kesendirian dan kesepian.
Menjadi penulis memang membuatnya senang-senang saja saat sendiri dan punya waktu banyak untuk menuangkan apa yang ada di kepalanya. Namun Nesa tetaplah manusia. Makhluk sosial yang perlu berbicara dan berinteraksi dengan manusia lainnya.
Dan Tama bukanlah orang lain.
Ia juga ingin bisa berbicara dan ngobrol dengan suaminya. Apalah daya, ia hanya pengantin yang tidak diinginkan olehnya. Ia hanya pengganti yang bahkan tidak bisa menggugah keinginan Tama untuk bicara dengannya. Seperti yang dipikirkannya selama ini, Tama hanya ingin bersama dengan Anggeni, bukan dirinya.
Bukan Annesa.
Ceklek.
Lamunan Nesa berhenti saat pintu di sampingnya terbuka. Tama berdiri dengan tangan kiri menahan pintu dan tangan kanan terulur padanya. Mata Nesa menatapnya dengan ragu. Merasa canggung dengan perubahan tiba-tiba ini.
Juga merasa gugup.
Bagaimana bisa lelaki yang berdiri di depannya ini terlihat sangat keren?
“Kamu memang suka sekali melamun dan jadi patung kayak gitu ya?”
“Hah?”
Tama terkekeh pelan. Ia lalu menunduk, menyeruak masuk di depan Nesa.
Gadis itu terkesiap sendiri, wajahnya hanya beberapa centi di depan pipi Tama, tangan Tama yang melingkarinya, lalu
Ctak!
Seatbeltnya terlepas, Tama menoleh dengan senyumnya, menatap wajah merah padam Nesa yang mengerjap-ngerjap di depannya.
“Ayo, kita makan malam bersama, Istriku,” ajak Tama dengan suara lembutnya, tatapan tegasnya, dan senyum kecilnya.
Sebuah ajakan yang kembali membuat gadis itu mematung kaget.
--
Sesendok terakhir tiramisunya berhasil masuk ke dalam mulut Nesa. Ia tersenyum puas. Setelah memakan pizza, ravioli, juga salad buratta-nya, lalu ditutup dengan tiramisu yang manis pahit. Nesa puas sekarang, ia tersenyum. Perutnya sudah penuh, hatinya juga bisa menyesuaikan diri dengan baik.
Mungkin Nesa sudah siap jika dapat ucapan talak dari lelaki di depannya.
Sedangkan Tama yang selesai meminum air putihnya langsung menahan senyum. Sebelah alisnya terangkat melihat gadis di seberang meja itu tersenyum dengan krim mascarpone di bibirnya. Tama mengulurkan tangan dan mengusap bibir atas Nesa yang belepotan krim.
Sontak saja senyum di bibir itu menghilang.
“Mas ngapain?” Nesa terkesiap, menarik kepalanya menjauhi tangan Tama. Tangannya sambil meraih tisu dan cepat-cepat mengelap bibirnya sendiri.
“Kamu belepotan,” Tama menjawabnya sambil kembali menarik tangannya. Meski matanya tidak lepas menatap Nesa yang sekarang menunduk mengubek tas kecil biru muda itu.
Mengeluarkan cermin, Nesa mengamati wajahnya, lalu kembali melirik Tama setelah yakin tidak ada lagi yang menempel di wajahnya selain riasannya sendiri.
“Jadi,” Nesa menjeda ucapannya, ia menurunkan cermin ke atas meja, “apa yang mau kita bicarakan?” tanyanya kemudian.
Jantungnya berdentum-dentum dalam waktu menunggu jawaban Tama. Ini sungguh adalah kali pertama mereka keluar rumah dan makan bersama hanya berdua. Biasanya mereka akan makan malam bersama dalam rangka gala dinner acara, atau makan malam keluarga besar Djati. Mereka tidak pernah secara spesial pergi berdua seperti ini.
Ini kali pertama mereka pergi berdua.
Selain kalau pergi bersama tiap ada undangan pernikahan, atau undangan acara yang berhubungan dengan Djati Group, atau apalah itu acara yang diadakan keluarga dan teman-teman Tama.
Selama dua tahun menikah dengannya, ini kali pertama ia duduk berdua saja.
Jadi canggung banget kayak kencan pertama gak sih?
Sekali lagi Nesa memperingatkan otaknya untuk tidak menyimpulkan hal dengan tiba-tiba dan penuh romantisme. Ia setuju dengan ucapan mamanya tadi, bahwa semua hal memang tidak akan semenarik dan sesempurna apa yang ada di dalam setiap tulisannya. Lagipula, ia tidak sedang dalam bab romantis ceritanya.
Malah mungkin ini adalah bagian klimaks yang akan mengakhiri hubungan tidak jelasnya dengan Tama. Sejelas apapun itu di depan semua orang.
“Saya mau minta maaf, Nesa.”
Nesa menunggu. Apa ini saatnya? Apa ini akhirnya? Ia menatap Tama yang duduk tegak dengan kedua tangan saling bertautan di atas meja. Apa itu? Apa Tama juga gugup? Apa mereka benar-benar akan membicarakan perpisahan?
“Maaf karena memperlakukan kamu dengan buruk selama ini,” lanjut Tama. “Apa kamu—
“Mau cerai?” potong Nesa.
Tama mengangkat alisnya dengan tatapan tidak percaya, kaget dengan pertanyaan Nesa yang tidak pernah terpikirkan sama sekali dalam kepalanya. Ia menggeleng, menatap istrinya yang sedang menatapnya takut-takut. Tama tidak bisa menebak apa yang ada dalam kepala istrinya itu. Tapi Tama mengatakan jawabannya dengan sangat jelas.
“Tidak, Nesa. Kita tidak akan bercerai.”
Mata Nesa berkedip-kedip. Ia sudah salah mengira. Bagaimana ini? Ya Allah, tolongin Nesa, Ya Allah, batinnya.
--
“Kenapa?” tanya Nesa setelah mendengar pernyataan Tama yang dengan tegas mengatakan bahwa mereka tidak sedang membahas hal itu. Tidak akan pernah membahasnya.
Tama membalas tatapan ragu-ragu Nesa dengan lebih tegas, “Karena saya sudah bilang, di pertemuan pertama kita, sebelum akad yang saya ucapkan pagi itu.”
“Ingatlah, Annesa Lidya Darmawan, setelah kamu keluar dari kamar ini, nama itu adalah nama suamimu. Dan kamu akan membawa nama itu juga, Annesa Lidya Djati.”
Ingatan Nesa memutar apa yang didengarnya pagi itu. Sesaat sebelum acara dimulai dan Tama mengucapkan janjinya. Bukan hanya ucapan semata yang dlakukannya di depan seluruh keluarga. Namun mengucapkan janji yang mengambil tanggung jawab atas dirinya. Baiknya dan buruknya. Hidupnya dan matinya.
Dunianya.
Akhiratnya.
Janji yang Nesa tahu tidak untuk main-main.
“Kita tidak akan membicarakan itu, Annesa Lidya Djati.”
Mata Nesa mengerjap. “Ap-apa?” terbata ia bertanya. Ini kali pertamanya Tama memanggilnya dengan nama itu lagi setelah hari itu.
“Kita bekerja sama dengan sangat baik sampai saat ini,” Tama mendorong gelas air putih ke depan gadis yang sekarang sedang menarik napas banyak-banyak itu, “untuk apa hal itu dibicarakan?”
Nesa meraih gelasnya, meminum sisa air di dalamnya, lalu kembali menatap Tama. Ragu yang tadi ada di dalam tatapannya kini berubah jadi tatap bingung.
“Aku udah berbuat sesuatu seburuk ini, Mas,” ucapnya pelan. Sungguh ia merasa bersalah.
Karena meski ia sudah mengikuti semua kegiatan Tama selama ini, ia tetap merasa kalau apa yang dilakukan Tama untuknya lebih besar. Lebih banyak. Lalu apa yang disembunyikannya, apa yang tidak ia ungkapkan padanya, juga apa yang tidak Tama dapatkan sebagai seorang suami dari istrinya juga membebaninya.
Kenyataan mereka belum pernah menghabiskan malam bersama membuat Nesa merasa bersalah. Ia mendapatkan semua hal dengan nyaman dan mudah. Tapi bahkan Tama tidak pernah meminta apa yang menjadi haknya.
Itu membuktikan satu hal, bukan? Bahwa Tama tidaklah menginginkannya. Bahwa Tama, suaminya, tidak pernah mau menganggapnya sebagai istrinya.
“Kenapa aku dipertahankan seperti ini?”
--