William memandang ke sekeliling studio yang menjadi lokasi syuting hari itu, tetapi gadis aneh itu tidak terlihat. Sutradara Shin meminta para model bersiap-siap karena syuting akan segera dilanjutkan, tetapi model utamanya tidak terlihat di mana-mana. Mungkin ia pergi makan siang di luar dan belum kembali. William mengembuskan napas dan mengingatkan diri sendiri untuk meminta nomor ponsel gadis itu supaya ia bisa menghubunginya kalau ada kejadian seperti ini lagi.
“Noona,” panggil William sambil berjalan menghampiri Yoon yang sedang merapikan kostum di rak gantung. “Noona tahu di mana dia?”
“Dia siapa?” Yoon balas bertanya tanpa menoleh.
“Siapa lagi? Gadis aneh itu. Ayaka Nakamura. Di mana dia?”
Sebelum Yoon sempat menjawab, terdengar suara dari balik punggung William yang berkata pelan, “Aku di sini.”
William berputar cepat dan langsung berhadapan dengan sepasang mata hitam besar yang balas menatapnya dengan resah. William bertanya-tanya apakah Ayaka Nakamura mendengar kata-kata “gadis aneh itu” tadi, namun langsung menyadari bahwa gadis itu tidak mengerti bahasa Korea. Ia hanya mendengar William menyebut namanya dan menyadari bahwa dirinya sedang dicari-cari.
“Baguslah karena kau sudah di sini,” kata William cepat-cepat. “Kan harus bersiap-siap sekarang.”
Ayaka menggigit bibir dan mengangguk singkat. “Oh, oke. Aku akan ...”
Kata-katanya terhenti ketika ia tiba-tiba merasa dunia bergoyang. Seperti gempa bumi ringan yang sering dialaminya di Tokyo. Tetapi ini London. Tidak mungkin gempa bumi, bukan?
Ketika ia mendapatkan keseimbangan tubuhnya kembali, Ayaka menyadari William Park sedang memegangi sikunya dan laki-laki itu menatapnya dengan alis berkerut samar.
“Ada apa denganmu?” tanyanya.
Ayaka menggeleng bingung. “Aku tidak apa-apa,” sahutnya sambil menarik lengannya dari pegangan William dan mundur selangkah. “Aku akan bersiap-siap sekarang.”
“Kau sudah makan?” tanya William Park lagi.
Ayaka tidak langsung menjawab. Setelah ragu sejenak, ia berkata, “Sudah.”
William tidak berkata apa-apa. Hanya terlihat berpikir-pikir, lalu ia mengangguk dan tersenyum kecil. “Baiklah. Aku akan memanggilmu kalau semuanya sudah siap.”
Ayaka memandangi punggung William yang menjauh sambil merenung, lalu ia berputar menghadap Yoon dan tersenyum. “Kostum mana yang harus kupakai?”
Beberapa menit kemudian, setelah berganti pakaian dan berjalan kembali ke meja riasnya, Ayaka melihat melihat dua bungkus sandwich dan sekotak s**u tergeletak di meja rias. Ia mengamati kedua sandwich yang terlihat lezat itu. Sandwich kalkun dan sandwich mentimun. Secarik kertas kuning terselip di bawahnya.
Aku tidak tahu kau vegetarian atau bukan dan aku tidak tahu kau suka kalkun atau tidak, tapi tolong makan saja daripada kau jatuh pingsan di tengeh-tengah syuting. Kita tidak mau hal itu terjadi, bukan?
D.
Ayaka memandang berkeliling sampai ia melihat William Park di seberang ruangan. Laki-laki itu sedang menunduk menatap sesuatu yang ditunjukkan salah seorang kru dan mendengarkan dengan saksama. Lalu tiba-tiba ia mengangkat wajah dan bertemu pandang dengan Ayaka. Sebelum Ayaka sempat berpikir apa yang harus dilakukannya, William tersenyum sekilas kepadanya dan kembali memusatkan perhatian pada apa yang dikatakan kru di sampingnya.
Menatap dua potong sandwich di tangan, Ayaka hanya ragu sejenak, lalu mernbuka bungkusan sandwich kalkun dan menggigitnya. Ia memejamkan mata sejenak. Pada kenyataannya sandwich itu memang bukan sandwich paling enak di dunia, tetapi saat itu, bagi perutnya yang keroncongan, sandwich itu adalah salah satu makanan paling enak yang pernah dicicipi Ayaka.
***
William mendapati dirinya tersenyum melihat gadis aneh itu menggigit sandwich dengan tekun, seolah-olah sandwich itu akan menguap kalau tidak segera dimasukkan ke mulut. Pikiran pertama yang muncul di benaknya adalah Ayaka Nakamura bukan vegetarian. Lalu pikiran kedua adalah dugaannya memang benar. Gadis itu nyaris pingsan karena kelaparan tadi. William jadi ingin tahu apa yang dilakukannya selama waktu makan siang tadi, kalau gadis itu memang tidak pergi makan.
Ia membiarkan dirinya menatap ke arah Ayaka Nakamura sejenak, lalu berdoa dalam hati supaya gadis itu tidak jatuh pingsan di tengah-tengah syuting. Jadwal syuting sudah cukup gila tanpa perlu ditambah dengan pingsannya model utama.
Tetapi pada kenyataannya ia tidak perlu khawatir sama sekali. Proses syuting sepanjang sisa hari itu berjalan sangat lancar. Entah karena perut Ayaka Nakamura yang sudah terisi penuh sehingga ia bisa bekerja lebih baik atau karena suasana hati Sutradara Shin memang sedang baik, semua adegan yang direncanakan untuk hari itu diselesaikan dengan cepat dan memuaskan.
Kemudian segalanya bertambah menyenangkan ketika Sutradara Shin menghentikan proses syuting lebih awal daripada kemarin dan mengajak semua kru makan malam di restoran Korea yang berjarak satu blok dari studio.
Restoran itu terletak di lantai dua, tepat di atas toko suvenir, di ujung jalan yang tidak terlalu ramai. Restoran kecil yang tadinya sepi itu berubah ramai karena kedatangan mereka dan mereka menempati hampir semua tempat kosong yang tersedia.
“Aku belum pernah mencoba makanan Korea.”
William menoleh ke arah suara itu dan melihat Ayaka sedang berbicara kepada Yoon.
“Sama sekali belum pernah?” tanya Yoon, lalu menerjemahkan kata-kata Ayaka ke dalam bahasa Korea sehingga penata rias lain yang duduk semeja dengan mereka mengerti.
Ayaka tersenyum dan mendengarkan sementara para penata rias itu mulai berlomba-lomba menjelaskan makanan kecil yang mulai disajikan di meja kepadanya dalam bahasa Inggris yang sepatah-sepatah dan kadang-kadang tanpa sadar dicampur bahasa Korea.
Selama dua hari ini jadwal syuting sangat padat dan gadis itu bahkan belum sempat banyak bicara dengan para kru. Ini akan menjadi kesempatan yang baik bagi mereka untuk lebih mengenal. Dan kelihatannya gadis itu tidak mendapat kesulitan. Sekarang saja beberapa orang kru di meja lain mulai mendekatinya dan mengajaknya mengobrol dengan bantuan Yoon sebagai penerjemah. Tidak lama kemudian mereka mulai tertawa-tawa dan membicarakan hal-hal yang tidak bisa ditangkap William dari tempat duduknya.
Sutradara Shin mengatakan sesuatu kepadanya dan William pun mengalihkan tatapan dari gadis itu.
***
Ayaka merasa senang malam itu. Lelah setengah mati, tentu saja, tapi juga senang. Awalnya ia ingin menolak ketika diajak ikut makan malam karena dua alasan. Pertama, ia merasa ia mungkin akan disisihkan karena ia adalah satu-satunya orang yang tidak bisa berbahasa Korea di sana. Tetapi ternyata ia salah.
Para kru memang tidak banyak bicara dan bersikap profesional ketika sedang bekerja, tetapi sekarang sikap mereka sangat berbeda. Mereka selalu mengajak Ayaka bicara dan bercanda walaupun mereka tidak bisa berbahasa Inggris dan harus mencampur-campurkan bahasa Inggris mereka yang sepatah~sepatah dengan bahasa Korea dan isyarat tangan.
Kedua, ia sangat lelah. Ia hanya ingin pulang dan tidur. Ketika syuting hari itu berakhir, ia baru benar-benar menyadari betapa lelah dirinya. Sebenarnya ajaib sekali ia masih bisa berdiri saat ini kalau mengingat jadwal kerjanya yang padat selama dua bulan terakhir, walaupun tentu saja sekarang ia merasa kakinya hampir tidak kuat lagi menopang tubuhnya.
Tetapi ia tidak bisa menolak ajakan Sutradara Shin untuk makan malam bersama. Ia tidak tahu apakah ia akan dianggap tidak sopan kalau menolak. Ditambah lagi Yoon juga mendesaknya ikut. Karena tidak punya tenaga untuk berdebat. Ayaka pun mengiyakan.
Dengan adanya Yoon yang bertindak sebagai penerjemah, Ayaka harus mengakui bahwa ia tidak menyesal telah ikut makan malam bersama. Makanannya enak dan orang-orangnya menyenangkan. Dan Ayaka menyadari ia banyak tertawa selama makan malam karena lelucon yang dilontarkan para kru. Sudah lama sekali ia tidak tertawa-tertawa seperti itu.
Walaupun ia bersenang-senang, rasa kantuk tetap menyerangnya. Tentu saja itu tidak aneh mengingat sudah beberapa minggu terakhir ini ia kurang tidur. Ia tidak tahu sudah berapa kali ia menguap diam-diam selama makan malam. Dan sekarang ia menguap lagi.
“Ngomong-ngomong, apa pendapatmu tentang William?”
Ayaka buru-buru mengatupkan mulut dan menoleh menatap Yoon. “Hm?”
“Bagaimana pendapatmu tentang William? Dia baik, bukan?” tanya Yoon sekali lagi.
Ayaka menoleh ke arah meja yang tadi ditempati William, tetapi tidak melihat laki-laki itu di sana. Ayaka menggigit bibir. Sebenarnya ia sama sekali tidak memikirkan William Park selama dua jam terakhir ini, dan menurutnya itu sesuatu yang bagus. Lalu kenapa Yoon tiba-tiba harus membicarakan laki-laki itu?
Kalau boleh memilih, Ayaka benar-benar tidak ingin berbicara tentang William Park. Bahkan tidak ingin berpikir tentang laki-laki itu. Tetapi salah satu hal yang diketahui pasti oleh Ayaka tentang Yoon adalah bahwa kalau wanita itu ingin membicarakan sesuatu, tidak ada yang bisa menghentikannya.
Sadar bahwa Yoon masih menatapnya dan jelas-jelas berharap ia mengatakan sesuatu, Ayaka memaksakan senyum kecil dan bergumam, “Sepertinya kau mengenalnya dengan baik.”
Senyum Yoon melebar bangga. “Tentu saja. Aku bahkan mengenal kakak perempuannya yang dulu juga adalah model terkenal. Sedangkan kakak laki-lakinya ... yah, aku hanya sempat bertemu dengannya satu kali—sebelum dia meninggal dunia, tentu saja.”
Ayaka menyesap minumannya dengan pelan.
Yoon mencondongkan tubuhnya ke arah Ayaka dan bergumam pelan, “Kecelakaan lalu lintas. Tiga tahun lalu. Mengemudi sambil mabuk.”
“Oh ya?”
“Oh, ya.” Yoon mengangguk muram. “Tulang pinggulnya patah dan dia sempat koma selama dua bulan sebelum akhirnya meninggal. Kasihan sekali, bukan?”
Ayaka menghela napas pelan. Kasihan? Sebenarnya tidak. Ia tidak kasihan pada orang-orang seperti itu. Hidup ini penuh dengan pilihan. Dan kalau orang itu memilih bersikap tidak bertanggung jawab dengan mengemudi dalam keadaan mabuk, maka ia sendiri yang harus menerima akibatnya.
Tetapi Ayaka tidak berkata apa-apa pada Yoon, hanya kembali menyesap minumannya dengan muram. Kepalanya mulai terasa pusing. Ia merasa seolah-olah sedang bermimpi. Ia butuh udara segar. Tidak, tidak ... Ia harus pulang. Ia tidak ingin jatuh pingsan karena kelelahan di tengah jalan.
Setelah pamit dengan Sutradara Shin, Yoon dan para staf lain—yang terbukti agak sulit karena mereka semua mendesaknya tetap tinggal—Ayaka pun mengumpulkan barang-barangnya dan berjalan ke arah tangga.
Oh, ia sangat lelah. Saking lelahnya, ia merasa ia bisa tidur sambil berdiri. Ayaka menepuk-nepuk pipinya sendiri untuk sedikit menyadarkan diri. Udara dingin pasti bisa menyegarkannya. Sekarang yang harus dilakukannya adalah menuruni tangga kayu sempit di restoran itu. Menuruni tangga sempit dalam sepatu bot bertumit tinggi dan dalam keadaan setengah sadar sama sekali bukan pekerjaan yang mudah.
Ayaka harus mengerahkan segenap konsentrasi yang tersisa. Ia tidak mau sampai ...
“Mau pergi ke mana?”
Suara itu membuat Ayaka tersentak kaget dan kehilangan keseimbangan. Sebelum ia bahkan menyadari apa yang sedang terjadi, kaki kanannya tergelincir dari pijakan dan tubuhnya terhuyung ke depan. Ayaka memejamkan mata, bersiap-siap menerima yang terburuk. Ia merasa dirinya menubruk sesuatu, tetapi ia tidak jatuh berguling-guling di tangga, tidak terjerembap di lantai keras, tidak merasa kesakitan.
Ayaka membuka mata dan mendongak. Matanya melebar kaget ketika ia menyadari bahwa ia telah mendarat dalam pelukan William Park.
‘Oh dear ...’