BAB 7

1848 Kata
Mata hitam yang mirip mata boneka itu terbelalak lebar menatapnya. Sejenak William melupakan kaki kirinya yang berdenyut-denyut kesakitan. Oh ya, ia bisa melihat berbagai macam ekspresi yang melintas di mata itu. Kaget, bingung, dan ... takut? William berdeham dan bergumam, “Kau tidak apa-apa?” Ia tidak melepaskan Ayaka. Gadis itu pasti akan langsung tersungkur kalau William melepaskannya, mengingat posisinya saat itu yang seluruhnya bersandar pada William. Ayaka Nakamura tidak menjawab. Tidak bergerak sedikit pun. Tubuhnya begitu kaku dalam pelukan William sampai William hampir mengira gadis itu sudah berubah menjadi boneka kayu. “Kalau kau baik-baik saja,” William melanjutkan dengan nada ringan, “Mungkin kau bisa mengangkat kaki kananmu sedikit.” Mata Ayaka mengerjap satu kali, lalu ia menunduk menatap kaki kanannya. William mengikuti arah pandangannya dan mereka berdua menatap hak tinggi sepatu bot Ayaka yang menancap di kaki kiri William. Ayaka terkesiap dan buru-buru melepaskan diri dari William. Tetapi karena terlalu terburu-buru, ia malah terhuyung ke belakang. William dengan cepat mengulurkan tangan dan menahan siku gadis itu. Ia mengembuskan napas panjang dan berkata, “Pelan-pelan saja,” kata William. Seperti yang sudah diduganya, Ayaka secepat kilat menarik lengannya dari pegangan William. Sejenak Ayaka hanya menatapnya tanpa berkedip. “Aku ... Maaf,” gumamnya pada akhirnya. Jeda sejenak, lalu, “Kakimu ...” William tersenyum dan menggerak-gerakkan kaki kirinya. “Aku tidak akan pincang,” katanya ringan. Ayaka mengangguk, namun tidak berkata apa-apa. William mengamati Ayaka Nakamura yang berdiri di hadapannya. Apakah hanya perasaannya atau apakah gadis itu memang terlihat resah? “Jadi kau mau ke mana?” tanya William lagi. Ayaka berdeham pelan. “Aku pulang dulu.” Ia tersenyum singkat. Benar-benar singkat, sampai William tidak yakin apakah Ayaka benar-benar tersenyum tadi. “Sampai jumpa besok.” Tanpa menunggu jawaban, gadis itu dengan cepat menuruni tangga melewati William dengan kepala tertunduk. Kening William berkerut samar, lalu sedetik kemudian ia berputar dan berkata, “Biar kutemani sampai ke stasiun.” Ayaka Nakamura berhenti di dasar tangga, berbalik pelan dan mendongak menatap William. “Apa?” “Akan kutemani kau sampai ke stasiun,” William mengulangi kata-katanya sarnbil menuruni tangga. “Aku tidak butuh ditemani.” William mendesah dalam hati. Astaga, gadis ini benar-benar menyulitkan. Ia berdiri di hadapan Ayaka dan tersenyum ringan. “Baiklah. Aku yang butuh teman,” katanya. “Aku sedang bosan. Aku butuh teman bicara. Dan kurasa jalan-jalan sebentar tidak ada salahnya. Bukankah begitu?” Setelah berkata begitu, William berjalan melewati Ayaka yang masih menatapnya dengan alis berkerut bingung. Setelah berjalan beberapa langkah, William berbalik dan melihat gadis itu masih berdiri di tempat. “Aku tidak bermaksud merayumu, kau tahu? Maksudku, kalau itu yang kautakutkan,” katanya sambil tersenyum. “Sudah kubilang kau sama sekali bukan tipeku. Tapi itu tidak berarti kita tidak bisa berteman, bukan?” Alis gadis itu masih berkerut dan ia masih menatap William dengan ragu. William memiringkan kepala sedikit. “Apakah kau takut padaku?” Ayaka tidak menjawab, dan hal itu membuat William heran. Ia hanya bercanda dan mengira Ayaka akan membantah dengan tegas. Tetapi gadis itu hanya berdiri diam di sana. Apakah gadis itu benar-benar takut padanya? Kenapa? Sebelum William sempat berpikir lebih jauh, ia melihat Ayaka memejamkan mata, lalu menghela napas seolah-olah menyerah, dan mulai berjalan menyusul William. Senyum William mengembang. ltu sama sekali bukan kemenangan besar, tetapi tetap adalah kemajuan. “Jadi, Ayaka,” kata William memulai percakapan sementara mereka berjalan menyusuri trotoar, “Kau sudah merasa lebih baik?” Ayaka meliriknya sekilas. “Apa maksudmu?” William mengangkat bahu. “Tadi siang kau hampir pingsan di depanku karena kelaparan. Sekarang kau hampir pingsan di tangga karena ... yah, aku tidak tahu kenapa, tapi yang pasti bukan karena lapar. Kulihat porsi makanmu cukup sehat tadi.” Langkah kaki Ayaka terhenti. Ia berputar menghadap William dan membuka mulut hendak membalas, lalu menutupnya lagi. Setelah berpikir sejenak, ia membuka mulut dan berkata, “Pertama, tadi siang aku tiduk pingsan. Walaupun aku ... walaupun aku memang tidak sempat makan. Tapi itu tidak ada hubungannya! Kepalaku hanya agak pusing dan ...” William mengangkat alis, terkejut mendengar aliran kata-kata yang cepat dari mulut Ayaka Nakamura. Tetapi sepertinya salah mengartikan ekspresi William karena gadis itu melotot ke arahnya. “Dan itu jarang sekali terjadi,” lanjut Ayaka galak. “Kedua, tadi aku hanya tergelincir di tangga—sekali lagi, bukan pingsan!—karena kau tiba-tiba muncul entah dari mana dan membuatku kaget setengah mati. Ketiga, apa maksudmu dengan porsi makanku besar? Apa salahnya kalau aku makan banyak? Aku kan tidak sempat makan siang tadi. Seorang model memang seharusnya kurus, tapi seorang model tidak seharusnya mati kelaparan. Katakan padaku, apakah aku salah?” Ayaka menarik napas panjang di akhir penjelasannya dan William tersenyum melihatnya. Lalu ia berkata, “Giliranku?” Karena gadis itu hanya diam dan menatapnya dengan mata disipitkan, William melanjutkan, “Oke, pertama, tadi siang kau memang hampir pingsan—tunggu, jangan menyela dulu—dan kalau aku tidak menahanmu, kau pasti sudah jatuh ke lantai seperti pohon tumbang. Kedua, aku tidak tiba-tiba muncul entah dari mana. Aku tadi sedang melihat-lihat toko suvenir yang ada di bawah restoran. Ketiga, tadi kubilang porsi makanmu sehat, bukan banyak. Sehat. Dan tidak, tidak ada salahnya kalau kau makan banyak.” Ayaka menatapnya sejenak dengan alis berkerut kesal. “Well, terima kasih,” katanya datar, berbalik meneruskan langkah. “Sekarang,” kata William ringan sambil mengikuti langkah gadis itu, “Ceritakan tentang dirimu.” Ayaka meliriknya sekilas—lagi-lagi tatapan curiga itu—dan bertanya singkat, “Kenapa?” Ah, lagi-lagi nada curiga itu. “Karena itu yang dilakukan teman, bukan?” William balas bertanya dengan nada polos. “Saling mengenal, maksudku.” Ayaka tidak menjawab. William juga menyadari gadis itu tidak membantah kata “teman”. Jadi sepertinya itu sesuatu yang bagus. “Sudah berapa lama kau tinggal di London?” tanya William ketika sepertinya Ayaka tidak berniat mengatakan apa-apa. Ayaka tidak langsung menjawab. Lalu, “Hampir tiga tahun.” William tersenyum kecil. “Kau suka tinggal di sini?” Ayaka hanya mengangkat bahu sedikit. “Ini ketiga kalinya aku datang ke London,” kata William. “Aku suka kota ini, walaupun pada dua kunjungan awalku aku tidak punya waktu untuk berkeliling dan melihat-lihat karena jadwal kerjaku terlalu padat. Tapi karena sekarang aku akan tinggal agak lama di sini, kurasa aku bisa mencari waktu luang untuk berkeliling kota.” Ayaka tetap menunduk menatap jalan, tidak berkomentar. “Bagaimana kalau kau menemaniku?” Kali ini kepala Ayaka berputar ke arahnya. Mata bulat dan resah itu menatap mata William sedetik, lalu mengerjap. “Apa?” William mengangkat bahu dengan ringan. “Kukira mungkin kau bisa menemaniu berkeliling kota setelah syuting berakhir. Aku tidak punya teman lain di sini, kecuali sutradara kita, tentu saja, tapi menurutku dia mungkin lebih suka menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya daripada bersamaku.” “Oh, kurasa tidak,” gumam Ayaka cepat—mungkin terlalu cepat—sambil menuruni tangga ke stasiun kereta bawah tanah. William bergegas menyusulnya. “Kenapa tidak?” “Karena aku tidak punya waktu.” Kedengarannya tidak meyakinkan. William semakin penasaran. Sepertinya Ayaka Nakamura tidak menyukainya. Tapi kenapa? William tidak pernah menganggap dirinya sebagai orang yang menjengkelkan. Ia ramah pada siapa saja. Dan ia jelas selalu bersikap ramah pada Ayaka. Lalu kenapa ia merasa seolah-olah Ayaka tidak menyukainya? Apakah ia telah melakukan sesuatu yang menyinggung perasaan gadis itu? Sepertinya tidak. “Keretaku akan datang sebentar lagi,” kata Ayaka sambil mendongak menatap papan penanda kedatangan kereta, “Jadi kalau kau mau pergi sekarang ...” “Kenapa kau membenciku?” *** Ayaka menahan napas sejenak. Lalu perlahan-lahan ia mengembuskan napas dan menoleh ke arah William Park. Ia bisa melihat kebingungan di wajah laki-laki itu. “Kenapa kau membenciku?” tanya William sekali lagi. Ayaka menarik napas lagi, lalu berkata pelan, “Aku tidak membencimu.” Itu memang benar. Ia tidak membenci William Park. Ayaka memang baru bertemu dengan William Park dua hari yang lalu dan mungkin Ayaka belum benar-benar mengenal laki-laki itu, tapi ia tahu William Park bukan orang yang gampang dibenci. Malah—kalau Ayaka mau jujur pada diri sendiri—ia merasa mudah sekali bagi seseorang untuk menyukai William Io. “Kalau begitu kau hanya tidak menyukaiku?” tanya William lagi. Ayaka menggigit bibir, berpikir. “Kurasa aku belum cukup lama mengenalmu untuk bisa memberikan penilaian apa pun,” katanya pada akhirnya. Alis William terangkat dan ia tersenyum tipis. “Kan tidak membenciku, tapi juga tidak suka padaku.” Ia menghela napas sejenak, lalu bertanya, “Apakah kau takut padaku?” Itu kedua kalinya William Park bertanya seperti itu. Ya, Ayaka tidak menjawabnya ketika William pertama kali bertany apadanya. Saat itu ia tidak tahu bagaimana menjawabnya. Sekarang juga tidak. “Ayaka?” Ayaka mengangkat wajah dan menatap William Park, lalu balas bertanya, “Apakah aku punya alasan untuk takut padamu?” William terdiam sejenak. Kepalanya dimiringkan ke satu sisi. Senyum kecil itu masih tersungging di bibirnya. Ayaka merasa seolah-olah laki-laki itu tahu apa yang sedang dipikirkannya. Dan hal itu membuatnya gugup. “Tidak, kau sama sekali tidak punya alasan untuk takut padaku,” gumam William Park. Satu kalimat itu langsung membuat d**a Ayaka terasa lebih ringan. Entah kenapa. Mungkin tanpa sadar Ayaka memang mengharapkan penegasan ini. Kemudian sebelum salah satu dari mereka mengatakan sesuatu, bunyi melengking panjang tanda kereta akan segera tiba terdengar, disusul bunyi gemuruh kereta di terowongan. “Keretamu,” kata William pendek. Sementara kereta berhenti di depan mereka dan sementara menunggu para penumpang turun dari kereta, Ayaka berpikir sejenak sambil menggigit bibir. Akhirnya ia menoleh ke arah William dan berkata, “Terima kasih.” William balas menatapnya dengan alis terangkat. “Hm?” “Terima kasih. Untuk semuanya, kurasa.” Ayaka mengangkat bahu dengan canggung. “Karena membelikan sandwich untukku siang tadi. Karena menolongku di tangga tadi. Karena mengantarku ke sini.” “Hei, itu gunanya teman, bukan?” balas William ringan. Ayaka tersenyum ragu, lalu melangkah ke dalam kereta. Dari balik jendela kaca kereta, ia melihat William Park melambaikan sebelah tangan ke arahnya. Dan laki-laki itu tidak beranjak sampai kereta itu sudah melaju meninggalkan stasiun. Ayaka duduk bersandar dan menghela napas dalam-dalam. Kata-kata William Park tadi terngiang-ngiang di telinganya. ‘Hei, itu gunanya teman, bukan?’ Apakah ia bisa berteman dengan laki-laki itu? Ayaka mengusap pelipisnya, lalu bertopang dagu, menatap ke luar jendela kereta, menatap dinding terowongan yang gelap gulita. Laki-laki selalu membuat Ayaka merasa resah dan gugup. Ia tidak pernah merasa nyaman berada di dekat laki-laki. Tidak pernah. Yah, sebenarnya bukan “tidak pernah”. Tentu saja ia tidak terlahir takut pada laki—laki. Hanya saja beberapa tahun terakhir ini, sejak kejadian ... kejadian itu, ia tidak pernah bisa memandang laki-laki dengan cara yang sama lagi. Hanya John satu-satunya laki-laki yang dianggapnya teman dan satu-satunya laki-laki yang tidak membuatnya merasa resah. Dan sekarang ada William Park. Selama dua hari terakhir ini Ayaka sudah berusaha menjaga jarak darinya, sama sekali tidak ingin berurusan dengannya. Namun malam ini William Park menunjukkan bahwa ia berbeda dengan perkiraan awal Ayaka. Laki-laki itu sepertinya ... baik. Mungkin William Park memang berbeda. Tetapi apakah kau benar-benar bisa berteman dengan orang yang bisa membangkitkan mimpi-mimpi terburukmu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN