BAB 8

2021 Kata
Keesokan paginya Johnathan Smith berdiri di depan jendela dapur dan cemberut menatap langit mendung di luar. Ia memang sudah terbiasa dengan cuaca kota London yang tidak menentu, tetapi itu tidak berarti ia menyukainya. Ia menyesap tehnya, lalu kembali memusatkan perhatian pada adonan panekuk di atas meja dan menghela napas. Ia suka memasak, dan ia meyakini kata-kata ibunya sejak ia masih kecil, bahwa sarapan adalah makanan paling penting dalam sehari. Sayang sekali kedua teman satu flatnya tidak meyakini hal yang sama. Alexa hanya perlu secangkir kopi di pagi hari dan Ayaka terlalu sibuk untuk makan. Kalau tidak ada John di sini, kedua gadis itu pasti sudah kering kerontang seperti tengkorak. Ia mendongak ketika pintu kamar Ayaka terbuka dan Ayaka yang terbungkus jubah tidur muncul dengan wajah pucat dan lingkaran hitam di sekeliling matanya. “Astaga, lass, apa yang terjadi padamu? Kau terlihat seperti tidak tidur semalaman,” kata John. “Tidak bisa tidur,” gumam Ayaka dengan suara serak sementara ia duduk di salah satu dari tiga kursi kayu di meja makan dan mengangkat kedua kaki ke atas kursi. “Tunggu sebentar,” kata John cepat. “Akan kutuangkan teh untukmu, lalu kau bisa menceritakannya padaku.” “Cerita tentang apa?” “Jangan pura-pura bodoh, Sayang,” kata John sambil meletakkan secangkir teh yang mengepul di depan Ayaka, lalu duduk di hadapannya. “Aku sudah mengenalmu cukup lama untuk tahu bahwa kau sedang ada masalah. Sekarang kau boleh menceritakannya padaku sambil makan. Ini panekuknya dan ini madunya. Aku tahu kau suka makan panekuk dengan madu.” Ayaka tersenyum kecil ketika John mendorong sepiring panekuk hangat ke arahnya. “Kau terdengar seperti ibuku,” gumamnya pelan. “Seseorang memang harus berperan sebagai ibu kalau ada kau dan Alexa di sini,” omel John. Tetapi kemudian ia tersenyum ketika melihat Ayaka mulai melahap panekuknya. “Sekarang ceritakan padaku apa yang membuatmu tidak bisa tidur semalaman?” “Di mana Alexa? Belum bangun?” “Dia sudah pergi pagi-pagi tadi,” sahut John. “Katanya ada audisi.” Ayaka mengangguk-angguk. “Sekarang ceritakan padaku sebelum kesabaranku habis,” desak John. Ayaka meringis dan melahap panekuknya lagi. Kemudian ia ragu sejenak, sepertinya sedang memikirkan kata-kata yang tepat, lalu berkata dengan hati-hati, “Ada seorang laki-laki.” Alis John terangkat heran. Selama ia mengenal Ayaka, ia belum pernah mendengar Ayaka membicarakan laki-laki mana pun. “Laki-laki? Siapa?” “Rekan kerjaku,” lanjut Ayaka tanpa menatap John. “Lawan mainku untuk video musik ini. Dia ...” “Dia mengganggumu?” tebak John dengan alis berkerut. Ayaka mengangkat wajah dan cepat-cepat menggeleng. “Tidak. Tidak, dia tidak ... Maksudku tidak seperti itu.” Lalu ia mengalihkan tatapan ke luar jendela. “Dia tidak menggangguku.” Ketika Ayaka masih diam, John menebak lagi. “Kalau begitu, dia merayumu?” Ayaka kembali menunduk. “Tidak, dia tidak seperti itu,” gumamnya sambil menghela napas. “Lalu apa?” John mengerang, terlalu penasaran untuk bersikap sabar. Ayaka menggigit bibir sejenak, lalu mengangkat wajah menatap John dan berkata, “Tidak apa-apa. Sama sekali tidak apa-apa.” Ia mengangkat bahu. “Kau mungkin tidak tahu, tapi aku tidak pernah merasa nyaman bersama ... laki-laki dan ...” “Aku tahu,” sela John. Ketika Ayaka menatapnya dengan bingung, ia menambahkan, “Alexa juga tahu.” “Kalian tahu?” Ayaka menatapnya dengan heran. John memutar bola matanya. “Tentu saja kami tahu, Ayaka, walaupun kami tidak tahu apa alasannya. Sudah berapa tahun kita tinggal bersama? Selama itu kami belum pernah melihatmu bersama laki-laki mana pun. Jangankan pacar, kau bahkan juga tidak punya teman berjenis kelamin laki-laki. Kecuali aku, tentu saja, tapi itu kasus yang berbeda.” Ayaka meletakkan garpu dan memeluk kedua kakinya. “Kau mau membicarakan alasannya?” tanya John. “Tidak,” jawab Ayaka cepat. John mengembuskan napas pelan. “Baiklah. Kita bicarakan laki-laki ini saja. Apa masalahmu dengannya? Kau tadi bilang dia tidak mengganggumu.” “Memang tidak.” “Dia baik?” Ayaka mengangkat bahu. “Ya ... bisa dibilang begitu.” “Dia tampan?” “Apakah itu ada hubungannya?” “Banyak! Nah, dia tampan atau tidak?” Ayaka terdiam sejenak, lalu bergumam, “Lumayan.” John bersandar kembali. “Baiklah. Jadi dia baik dan juga tampan. Sejauh ini aku tidak melihat ada masalah.” Ayaka menarik napas panjang, menoleh ke luar jendela, lalu bergumam, “Dia ... dia mengingatkanku pada hal-hal yang tidak pernah ingin kuingat lagi.” John menatap Ayaka sejenak. “Maksudmu, dia mengingatkanmu pada seseorang di masa lalumu? Seseorang yang tidak menyenangkan?” tanyanya pelan. Ayaka menoleh ke arah temannya dan tersenyum masam. “Aku lupa kau pintar membaca pikiran wanita,” gerutunya. John tidak menghiraukan kata-katanya dan terus bertanya, “Tapi seseorang di masa lalu itu bukan dia, kan?” “Bukan.” “Lalu kenapa kau menyamakan orang itu dengan dia?” “Aku tidak...” “Tidak?” tanya John dengan alis terangkat. Lalu ia mendesah pelan dan mencondongkan tubuh ke depan dan menggenggam tangan Ayaka. “Dengar, Ayaka, aku tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu. Mungkin kau pernah terluka karena seorang laki-laki. Atau mungkin alasannya sama sekali berbeda. Entahlah. Hanya kau yang tahu. Tapi kau harus tahu bahwa tidak semua laki-laki itu sama. Rasanya tidak adil memusuhi semua laki-laki hanya karena kesalahan satu orang. Terutama apabila laki-laki itu sebaik yang kaukatakan tadi.” Ia tersenyum. “Laki-laki yang normal, tampan, dan baik sulit didapatkan, kau tahu?” Ayaka ikut tersenyum mendengarnya. “Aku tidak bermaksud menjalin hubungannya dengannya, kau tahu?” “Aku tahu. Tapi tidak ada salahnya berteman, bukan?” kata John ringan. “Kalau dia ternyata tidak sebaik yang kaukira, atau kalau dia macam-macam padamu, kau punya aku di sini. Begini-begini aku bisa menendangnya sampai ke negara tetangga, kau tahu? Atau Alexa bisa meminta salah seorang pengawal pribadi ayahnya menghabisinya di tempat.” Seulas senyum mulai tersungging di sudut bibir Ayaka. John ikut tersenyum. “Tapi kalau nantinya dia memang terbukti baik dan kalau kau memang tidak tertarik padanya, kau boleh melemparkannya kepadaku. Siapa tahu ...?” Kali ini Ayaka tertawa. “Baguslah kau sudah tertawa. Sekarang habiskan panekukmu dan pergi mandi,” kata John puas. Lalu ia terdiam sejenak dan mengerjap. “Astaga, aku benar-benar terdengar seperti ibu-ibu.” *** Kafe kecil khas Inggris di West End itu terlihat ramai. Bukan oleh para tamu yang ingin menikmati secangkir teh atau sandwich mentimun, tapi oleh para staf produksi video musik yang saling mengobrol dan berseru dalam bahasa Korea. Sementara para stafnya sibuk mempersiapkan semuanya, Bobby Shin duduk di luar kafe, menempati salah satu meja bundar bercat putih di trotoar, dengan secangkir kopi panas di hadapannya. Langit siang itu terlihat mendung, tetapi Bobby Shin sama sekali tidak khawatir. Syuting hari ini seluruhnya akan dilakukan di dalam ruangan. “Halo, Hyong.” Bobby Shin mengangkat wajah dari lembaran-lembaran kertas di pangkuannya dan langsung bertatapan dengan William Park yang entah bagaimana sudah menempati salah satu kursi besi di hadapannya. “Oh, halo. Kau sudah makan siang? Kalau belum sebaiknya kau pergi makan dulu karena kami semua sudah makan tadi,” kata Bobby Shin sambil kembali menunduk menatap kertas-kertasnya. William tidak menjawab, malah memandang berkeliling sejenak, lalu kembali menatap Bobby Shin. “Hyong sudah melihat Ayaka?” Bobby Shin menggeleng. “Sepertinya dia belum datang. Mungkin sebentar lagi.” “Hyong, apa pendapat Hyong tentang dia?” tanya William tiba-tiba. “Dia profesional,” sahut Bobby Shin sambil kembali membalik-balikkan kertas di pangkuannya. “Punya wajah yang cocok untuk video musik ini.” “Maksudku selain itu,” kata William. “Apa yang Hyong ketahui tentang dia?” Kali ini Bobby Shin mengangkat wajah dan menatap William dengan tatapan heran. “Apakah ada hal lain yang perlu kuketahui tentang dia selain kenyataan bahwa dia profesional, memiliki wajah yang cocok untuk video musik ini, juga sangat cocok berpasangan denganmu?” Bobby Shin balas bertanya. “Bagaimanapun juga, Ha-Neul sudah memutuskan sejak awal bahwa dia ingin kau membintangi video musik yang ini. Jadi kami hanya perlu mencari model wanita yang cocok denganmu.” William meringis. “Dengan kata lain, Hyong tidak tahu apa-apa tentang dia di luar urusan pekerjaan?” “Apakah aku harus tahu?” tanya Bobby Shin heran. Ia tidak pernah mengurusi urusan pribadi model-modelnya. Baginya, selama mereka melakukan semua yang diinginkannya di depan kamera, ia tidak peduli dengan apa pun yang mereka lakukan di belakang kamera. William mengembuskan napas, lalu berkata, “Sepertinya dia tidak suka padaku.” “Masa?” tanya Bobby Shin acuh tak acuh. “Apa yang sudah kaulakukan padanya?” “Aku tidak melakukan apa-apa.” Bobby Shin menyipitkan mata memandang melewati bahu William. “Itu dia,” katanya. “Orang yang kaucari-cari sudah datang.” William segera berbalik dan melihat Ayaka Nakamura sedang berjalan menghampiri Yoon yang melambai-lambaikan tangan ke arahnya. “Kau harus mengerahkan pesonamu, William. Usahakan agar dia menyukaimu, paling tidak di depan kamera,” kata Bobby Shin. “Hari ini kalian berdua akan tampil bersama di depan kamera dan aku tidak mau ada masalah.” “Aku tahu,” William mendesah. Lalu ia tersenyum masam, berdiri dan berjalan pergi. Saat itu Bobby Shin baru melihat langkah kaki William yang timpang. “Hei, William, apa yang terjadi dengan kakimu?” tanyanya. William mengibaskan sebelah tangan. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Bobby Shin mengangkat bahu. Ia hanya berharap William tidak akan terlihat timpang di depan kamera. *** Ayaka sudah tahu William Park berjalan menghampiri mereka bahkan sebelum Yoon menyerukan nama laki-laki itu dengan nada cemas. Ayaka menoleh dan langsung bisa menebak apa yang membuat Yoon terdengar cemas. Langkah William Park terlihat timpang. Namun sebelum Yoon sempat bertanya lebih jauh, seseorang berseru memanggilnya dan hal berikut yang disadari Ayaka adalah ia sudah ditinggal berdua dengan William Park. “Halo,” sapa William sambil tersenyum cerah. “Kuharap kau mendapat waktu istirahat yang cukup semalam.” “Ya,” gumam Ayaka singkat. Tiba-tiba William Park membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ayaka. Ayaka terlalu kaget untuk bergerak. Mata William Park mengamati wajahnya, lalu laki- laki itu memiringkan kepala sedikit dan bergumam, “Tapi kau masih terlihat pucat pagi ini. Kurang tidur?” Ayaka mengerjap dan cepat-cepat mundur selangkah. “A–ada apa dengan Kakimu?” tanyanya agak tergagap karena ingin mengalihkan topik pembicaraan. William menunduk menatap kakinya, lalu tersenyum. “Seseorang menginjak kakiku semalam,” jawabnya ringan. “Kemarin tidak terasa sakit, tapi tiba-tiba pagi ini kakiku sudah bengkak. Aneh, bukan?” Seseorang menginjak kakinya semalam? Ayaka mengangkat wajah dan menatap William Park yang masih tersenyum. “Aku?” tanyanya ragu. Ia ingat ia memang menginjak kaki William Park di tangga restoran kemarin malam. “Jangan khawatir,” William menenangkannya. “Tidak ada tulang yang patah. Dikompres sedikit saja pasti sembuh.” Ayaka masih tidak yakin. Mungkin memang tidak ada tulang yang patah, tapi ... “Kau sudah ke dokter?” tanyanya. William mengangkat bahu. “Untuk apa ke dokter hanya gara-gara masalah kecil ini?” Alis Ayaka berkerut samar. “Kalau kau masih merasa bersalah,” sela William cepat, “Kau bisa mentraktirku makan. Aku belum sempat makan siang dan aku ingin sekali makan fish and chips. Kau sudah makan siang?” “Aku sudah sarapan,” kata Ayaka. William mendesah. “Sarapan dan makan siang itu berbeda. Kau tidak mau jatuh pingsan lagi, bukan?” Ketika Ayaka mendelik ke arahnya, senyumnya malah bertambah lebar dan ia menambahkan, “Ayo, ikut aku. Syutingnya baru akan dimulai dua jam lagi dan aku tahu tempat yang menjual fish and chips paling enak di seluruh penjuru London. Semoga saja mereka belum pindah.” Ayaka membuka mulut ingin menolak, tetapi ia teringat pada pembicaraannya dengan John di meja dapur pagi tadi. Tidak ada salahnya berteman, bukan? Dan William Park sendiri juga mengatakan hal yang mirip seperti itu kemarin malam. Ayaka menutup mulutnya kembali dan menatap William Park yang sedang menyerukan sesuatu kepada Sutradara Shin dalam bahasa Korea. Mungkin berkata bahwa mereka akan pergi makan siang. Kemudian ia kembali menoleh kepada Ayaka, masih dengan senyum cerah yang sama. “Kita pergi sekarang?” tanyanya. Ayaka ragu sejenak, lalu ia pun mengangguk. Ia akan mencobanya. Mencoba berteman dengan William Park.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN