Ayaka sudah lebih tenang ketika mereka masuk taksi. Wajahnya masih pucat pasi, tubuhnya masih gemetar, namun ia sudah berhenti menangis. Ia sama sekali tidak bersuara selama perjalanan pulang, tetapi ia tidak menarik diri dari pelukan William. Jadi William tidak memaksanya bicara, hanya terus merangkulnya. Ketika mereka sudah masuk ke dalam flat Ayaka, William menyalakan lampu dan menuntun Ayaka ke sofa di ruang duduk. “Tunggu sebentar di sini. Aku akan membuatkan teh untukmu.” Ayaka tersentak, baru menyadari William ada di sampingnya. Ia mengangguk kecil, lalu melepaskan diri dari pelukan itu dan duduk di sofa. Tubuhnya gemetar, kedua tangannya memeluk dirinya sendiri. Matanya yang sembap bergerak ke sekeliling flat, penuh kewaspadaan. Ia menatap pintu, jendela, dan sudut ruangan, se

