Taksi yang ditumpangi William berhenti di seberang gedung apartemen tua bertingkat dua di pinggiran kota Tokyo. “Di sinikah tempatnya?” tanya William kepada si sopir taksi dengan bahasa Jepang yang terdengar agak payah dan terpatah-patah. Tetapi setidaknya si sopir taksi mengerti dan ia mengangguk sebagai jawaban. “Tunggu sebentar,” kata William kepada si sopir. Lalu menggerakkan tangan untuk memperjelas maksudnya. “Tunggu sebentar di sini. Oke?” Si sopir mengangguk-angguk dan memberi tanda oke dengan tangannya. William keluar dari taksi dan memandang berkeliling, sebelah tangannya terangkat ke mata untuk menahan sinar matahari. Daerah ini cukup sunyi, namun bukan sunyi yang menakutkan. Rasanya seperti sunyi yang menenangkan. Ia menunduk ke arah kertas lusuh di tangannya. Lusuh karena

