Ketika melihat William berdiri di ambang pintu, napas Ayaka langsung tercekat. Ia hanya bisa mematung menatap William. Ia bahkan tidak sadar dirinya memanggil nama William. William masih terlihat seperti dulu, walaupun gaya rambutnya kini agak berbeda dan wajahnya terlihat pucat dan lelah. Ayaka tidak tahu apa yang sedang dipikirkan William karena ia tidak bisa membaca apa yang tersirat di balik mata gelap yang menatapnya dengan tajam itu. “William,” sapa Yoon ceria. “Lihatlah siapa di sinj. Kau masih ingat pada Ayaka, bukan?” Suara Yoon seolah-olah menyadarkan William. Ia tersenyum samar dan bergumam, “Ya, aku ingat.” “Menurutku kita harus minum-minum bersama. Untuk mengenang masa lalu dan merayakan pertemuan kita kembali. Mungkin setelah sesi pemotretan ini? Bagaimana menurut kalian?”

