Arman tidak bisa melupakan Alin. Tubuh mungil itu seakan menjadi candunya. Minuman beralkohol yang memabukkan baginya Seperti hari ini, di kantor pun Arman tidak bisa melupakan Alin. "Wei, melamun, Boss?” tanya Erik pada atasannya yang juga teman baiknya di kampus dulu. Tanpa mengetuk pintu ruang kerja Arman, Erik langsung menerobos masuk dan duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Arman. "Mikirin apa, Boss?” lanjutnya. "Ck! Bas bos bas bos!” decak Arman kesal karena kedatangan Erik membuyarkan khayalannya bersama Alin. "Masalah rumah tangga kah?” tanya Arman penuh selidik. Arman tersenyum kecut. Tepat sekali dugaan sahabatnya itu. "Ya, salah satunya," jawab Arman singkat. "Cerita saja, aku dengarkan. Seperti biasa." Kedua alis Erik naik turun menggoda Arman seperti bia