"A-Arman," panggil Alin gugup. Tingkah Arman benar-benar di luar dugaan Alin karena bukan hanya berbisik tapi Arman menggesekkan ujung hidungnya yang mancung di daun telinga Alin, sisi yang tidak terlihat oleh banyak orang tentunya. Arman sudah pintar melihat situasi untuk hal seperti itu. Tapi berbeda dengan Alin yang masih polos, dia takut karyawannya melihat kejadian barusan. "Jangan di sini, kita keruangan aku saja, bagaimana?” Arman menganguk antusias. Alin sendiri bingung dengan dirinya, mengapa dia berkata demikian pada pria beristri itu. "Kamu duluan saja, aku mau bicara dulu sama mereka," titah Alin. Arman dengan santainya beranjak dari kursi dan berjalan menuju ruang kerja Alin. Ruang khusus owner restaurant. Selang beberapa lama akhirnya Alin datang. Belum ada sehari tap