Pesta ulang tahun Marisha berlangsung megah dan meriah. Ballroom hotel bintang lima itu dipenuhi lampu kristal yang menggantung seperti bintang, mengubah ruangan menjadi negeri dongeng untuk satu malam. Para tamu berdatangan dengan busana terbaik mereka. Deretan sosialita, rekan bisnis, dan tentu saja, media yang siap mempublikasikan setiap senyum dan pelukan hangat dari sang nyonya rumah.
Marisha terlihat memukau dalam balutan gaun putih gading dengan detail renda dan kristal. Senyumnya manis, gesturnya lembut, dan tutur katanya begitu menawan. Ia menyambut semua tamu dengan hangat, termasuk anak-anak panti asuhan yang ia undang khusus demi memperkuat citranya sebagai wanita berhati malaikat. Ia menyiapkan hidangan yang ramah dan dikhususkan untuk anak-anak di ujung ruangan.
"Selamat ulang tahun, Nyonya Zayden. Semoga segera diberikan momongan ya..."
"Marisha, kamu memang berhati malaikat. Dunia perlu lebih banyak wanita sepertimu."
"Jiwa sosialmu luar biasa, benar-benar panutan."
Ucapan-ucapan itu terdengar bertubi-tubi, seolah seluruh ruangan kompak menyanjungnya. Padahal mereka hanya melihat topeng. Mereka tidak tahu apa yang bersembunyi di balik senyum manis itu.
Tapi Irish tahu.
Irish yang berdiri tak jauh dari pusat perhatian, menyaksikan semuanya dengan dingin. Ia bukan bagian dari para tamu resmi. Tapi kehadirannya bukan untuk berpesta. Ia datang dengan misi, dan ini adalah permulaan.
Irish mengenakan gaun merah menyala dengan potongan backless yang memperlihatkan punggung mulus dan garis tubuhnya yang memikat. Gaun itu membungkus tubuhnya dengan sempurna, seperti bendera perang yang berkibar di medan pertempuran. Rambutnya dibiarkan tergerai panjang, bergelombang lembut. Bibirnya dipulas merah menyala, kontras dengan senyum tipis yang mengandung racun.
Ia melihat Marisha berdiri anggun di tengah kerumunan, disorot kamera, diwawancara media, dicintai orang-orang.
Dan tak jauh dari sana, Zayden, targetnya itu tampak tengah berbincang dengan rekan bisnis. Pria itu tinggi dan tegap, posturnya menjulang dengan aura maskulin yang sulit diabaikan. Irish memperhatikannya dalam dalam. Bahu bidangnya, rahang tegas, mata tajam dan ekspresi berkelas. Zayden benar-benar perpaduan sempurna antara kekuasaan dan daya tarik. Pria impian siapa pun.
Termasuk Marisha. Tapi Marisha salah jika mengira semuanya akan berjalan lancar. Apalagi setelah menjadi pelakor, menghancurkan keluarga Irish, membunuh orangtuanya, dia bisa hidup bahagia dengan pesta, sorotan, dan gelar istri sah.
Irish menghela napas panjang. Tatapannya beralih ke layar LED besar yang menampilkan slide show foto-foto mesra Marisha dan Zayden. Tawa mereka, pelukan hangat, ciuman lembut—semua terpampang untuk dikagumi.
Irish tersenyum miring.
"Bagaimana kalau layar itu diganti dengan tayangan berita kematian orangtuaku, Marisha? Kamu tidak mungkin melupakan pria yang pernah menghangatkan tubuhmu, bukan?"
Suara Irish terdengar rendah, nyaris seperti bisikan. Tapi ketajamannya menampar udara pesta yang semula begitu riang.
Ia menjentikkan jari dengan anggun. Dalam sekejap, layar raksasa yang sebelumnya menampilkan foto-foto mesra Marisha dan Zayden berubah. Slide beralih menjadi potongan berita kematian orangtuanya sepuluh tahun yang lalu.
Wajah-wajah yang terpampang dalam berita itu adalah ayah dan ibu Irish—korban dari kerakusan seorang wanita yang kini berdiri mematung di tengah pesta ulang tahunnya.
Irish meneguk champagne perlahan, matanya tidak pernah lepas dari layar, lalu mengarah pada Marisha yang kini tampak seperti seseorang yang baru saja ditelanjangi di tengah keramaian.
"Ayam kampus murahan sepertimu ingin hidup bahagia dan menjadi nyonya?" bisik Irish dengan senyum mengejek. Ia tertawa kecil, tawa yang penuh ejekan dan dendam yang belum selesai.
Beberapa tamu mulai gelisah, bisik-bisik bermunculan, dan fokus mereka sepenuhnya beralih ke layar.
"Maaf! Maaf, itu kesalahan teknis!" Seorang MC terburu-buru naik ke panggung, berusaha meredam suasana. "Kami akan segera memperbaikinya. Maaf atas ketidaknyamanan ini..."
Layar pun padam. Suasana pesta berusaha kembali normal, musik diputar lagi, gelas kembali berdenting. Tapi Irish tahu, satu orang di ruangan ini tidak akan pernah kembali normal.
Marisha.
Wajah wanita itu pucat, matanya liar mencari asal muasal sabotase tersebut. Tangannya bergetar saat meraih tangan tim acara, meminta layar diganti, menggigit bibir sambil menahan panik. Semua terjadi dalam hitungan menit. Tapi bagi Irish, ini adalah bagian dari simfoni kehancuran yang sangat ia nikmati.
Irish menyesap tetes terakhir dari champagnenya, pandangannya menangkap sosok Zayden yang sedang menuju lorong menuju kamar mandi. Dengan gerakan elegan, ia meletakkan gelasnya di meja terdekat dan melangkah pelan, membiarkan tumit tingginya mengeluarkan dentingan halus yang memikat. Inilah saatnya.
****
Zayden merapikan penampilannya di depan cermin kamar mandi setelah membuang air kecil. Ia memeriksa ponselnya, memastikan beberapa email dan pekerjaan yang perlu ditindaklanjuti. Pemikirannya yang sebelumnya agak melayang kembali terfokus pada urusan bisnis. Begitu ia melangkah keluar dari kamar mandi, langkahnya terhenti sejenak. Tanpa diduga, ia menabrak sesuatu yang membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Detik berikutnya, tubuh Zayden jatuh menimpa seorang wanita yang berdiri di lorong. Mereka terjatuh bersama, dan dalam posisi yang canggung, bibir wanita itu menempel di d**a, mengenai kemeja putihnya, meninggalkan jejak merah yang mencolok. Zayden segera bangkit, sebelum sempat menikmati keindahan wanita yang ada di bawahnya, terlebih saat ia melihat wanita itu kesakitan.
"Maaf, saya tidak sengaja..." Zayden buru-buru memijit pelipisnya, merasakan pening di kepalanya. Ia segera membantu wanita itu bangkit, merasa bersalah.
Irish, meskipun merasa sedikit kesakitan karena cedera ringan di kakinya, tidak bisa menahan senyum liciknya. Ini adalah bagian dari rencananya yang sudah mulai berjalan. Ia merasakan sedikit kesakitan dari hak tinggi yang ia kenakan, tetapi keuntungannya jauh lebih besar. Senyum licik itu tidak terlihat oleh Zayden, yang lebih fokus pada keadaan wanita yang baru saja ia jatuhkan.
"Maaf sekali, saya benar-benar tidak sengaja," Zayden berkata sambil mengangkat Irish dengan hati-hati. Ia memutuskan untuk membawanya ke ruang peristirahatan yang lebih tenang.
Irish menahan rasa sakit di kakinya, yang semakin terasa tajam. Namun, ia tak bisa menutupi kepuasannya. Rencana untuk mendekat pada Zayden, pria yang sejak awal menjadi target balas dendamnya, berjalan sesuai rencana.
"Saya akan segera memanggil dokter untuk memeriksa kaki Anda," Zayden berkata dengan cemas, sembari menghubungi seseorang di ponselnya.
"Jangan khawatir," Irish menjawab dengan suara lembut, mencoba terlihat lebih manis. "Sebenarnya saya yang seharusnya minta maaf. Saya mungkin yang tidak hati-hati."
Zayden tersenyum sopan, merasa sedikit canggung namun tetap berusaha menjaga kesopanan. "Sepertinya kita sama-sama bersalah," katanya. "Apakah Anda teman Marisha?"
"Oh, tidak! Saya hanya mewakili teman saya yang tidak bisa datang. Saya hanya ingin menghadiri pesta ini atas nama beliau." Irish mengerling pada Zayden dengan senyum yang penuh misteri.
Zayden mengangguk, sedikit lega mendengar penjelasan itu. "Oh, semoga Anda menikmati pesta ini."
Irish memandang jejak bibir yang terlukis di kemeja Zayden dengan penuh perhatian. "Kemejamu...," katanya, menunjuk bekas merah di sana. "Maafkan saya!"
Zayden tertawa kecil, tidak terlalu terganggu dengan insiden itu. "Santai, itu hanya ketidaksengajaan. Abaikan saja," jawabnya.
Tapi Irish tidak membiarkan pembicaraan terhenti begitu saja. "Sebenarnya, saya datang ke sini mewakili pemilik undangan, karena saya sangat kagum dengan bisnis Anda." Suaranya terdengar tulus, namun matanya penuh perhitungan. "Saya memiliki beberapa bisnis sendiri, seperti butik Serenite, Cafe Lumiere, dan saya selalu menjadikan Anda sebagai motivasi dalam perjalanan saya."
Zayden mengangkat alis, sedikit tertarik. "Oh, ya? Anda terlalu berlebihan."
"Tapi saya sungguh melakukannya," jawab Irish, sambil terkekeh ringan. "Setiap kali saya merasa ingin menyerah, saya selalu ingat tentang kesuksesan Anda yang sering muncul di berbagai artikel. Itu membuat saya merasa terus maju."
Zayden tersenyum tipis. "Lain kali, saya akan mampir ke cafe Anda dan membantu menganalisis apa yang bisa dikembangkan. Sebagai permintaan maaf," katanya dengan nada yang lebih ramah.
"Terima kasih banyak, itu akan sangat berarti bagi saya," jawab Irish dengan senyum elegan. "Hidup Anda benar-benar sempurna. Saya sangat kagum dengan Anda dan istri Anda. Kalian berdua benar-benar role model bagi saya."
Zayden sedikit tersenyum, merasa dihargai meski dengan sedikit kebingungan. "Tidak ada yang sempurna di dunia ini," katanya pelan. "Namun, saya harap Anda mendoakan saya. Semoga kami segera diberi seorang anak."
Irish menatapnya dengan pandangan empatik. "Saya yakin Anda akan segera mendapatkannya," jawabnya dengan suara lembut dan penuh perhatian. "Pasti."
Dalam hati, Irish merencanakan langkah selanjutnya. Zayden, pria itu sedang berada di ujung kesabarannya, dan itu adalah celah yang akan ia manfaatkan.
Irish menyenderkan punggungnya ke sofa, mencoba menenangkan denyut pergelangan kakinya yang masih terasa ngilu. Gaun merahnya melorot sedikit di bagian bahu, memperlihatkan kulit pucat dan tulang selangka yang anggun. Tapi itu semua terlihat sangat wajar, bukan dibuat-buat. Seolah-olah, memang begitu cara ia bergerak.
Zayden berdiri di dekatnya, masih sesekali melihat layar ponsel. Tapi sesekali saja. Sisanya, matanya secara tidak sadar kembali mencuri pandang ke arah Irish. Ke arah kulit halus di bahunya, ke garis leher yang terbentuk sempurna, dan cara gaun itu jatuh begitu alami, membingkai tubuh Irish seperti dibuat khusus untuknya.
Irish melirik ke bawah, ke arah kakinya yang masih terbalut heels mengkilap.
"Sepertinya... aku benar-benar tak bisa melepaskannya sendiri," gumamnya, cukup lirih namun bisa terdengar jelas oleh Zayden. Ia menoleh, sedikit bingung.
"Maksudmu... sepatumu?" Zayden mengernyit. "Oh ya Tuhan! Seharusnya aku membantu melepaskannya sejak tadi!"
Irish mengangguk pelan, tersenyum kecil. "Biasanya aku tak pernah minta tolong untuk hal seperti ini. Tapi kaki ini benar-benar sedang tak bisa diajak kompromi."
Irish menunduk dan menyibak sedikit bagian bawah gaunnya untuk memperlihatkan tumitnya yang mulai kemerahan. Kulitnya mulus, garis kaki itu memanjang naik, menyiratkan betapa jenjang dan terawatnya kaki tersebut.
Zayden akhirnya berjongkok, melepaskan satu per satu tali heels itu. Gerakannya hati-hati, tidak menyentuh kulit Irish secara langsung, tapi tetap terasa ada jarak yang tipis.
Matanya sempat terpaku. Tumit merah itu, kulit pucat yang nyaris berpendar di bawah cahaya lampu, dan betis jenjang yang tersembunyi sebagian di balik gaun yang terangkat sedikit. Semua tampak... berbahaya, membuat Zayden kehilangan fokus sejenak.
Ia menarik napas pelan, mencoba tetap sopan. Tapi sulit ketika setiap sentuhan tali yang dilepas justru menampakkan lebih banyak hal kecil yang entah kenapa... ingin ia lihat lebih lama.
"Maaf ya," katanya sambil melepaskan heels kiri. "Kalau terasa sakit—"
"Justru... lebih nyaman," sahut Irish cepat, nadanya rendah dan lembut. Ia membiarkan matanya menatap Zayden dengan pandangan tulus. "Saya tidak biasa dilayani seperti ini."
Zayden tertawa kecil, meskipun detak jantungnya sedikit berubah ritme. Dan Irish tahu betul, senyum kecil pria itu menyiratkan rasa nyaman yang mulai tumbuh.
Saat kedua heels sudah terlepas, Irish mengangkat kakinya sedikit dan meregangkan jemarinya. Ia berkata pelan, "Sekarang saya mengerti... kenapa wanita bisa jatuh cinta hanya karena seorang pria membukakan sepatu."
Zayden mendongak, menatapnya. Tatapannya masih netral, tapi ada sesuatu di sana. Ketertarikan kecil yang mungkin bahkan belum ia sadari. Atau mungkin sudah, dan ia sedang menolaknya perlahan-lahan.
Irish lalu menyandarkan kepala ke sofa, memejamkan mata sebentar, lalu membuka matanya pelan. "Saya minta maaf kalau terlalu menyusahkan malam ini."
"Tidak sama sekali," jawab Zayden. "Saya justru senang bisa membantu. Ini terjadi juga karenaku!"
"Lalu... bagaimana dengan kemejamu?" Irish menatapnya lagi, kali ini dengan senyum yang lebih hangat. "Boleh saya ganti rugi?"
Zayden menggeleng sambil tersenyum. "Anggap saja ini kenang-kenangan. Tidak banyak yang berani menodai penampilan saya."
Irish tertawa pelan. "Kalau begitu, saya senang menjadi pengecualian."
Dan untuk sesaat, hanya sesaat, Zayden membalas tatapan itu lebih lama dari yang seharusnya. Penuh rasa ingin tahu. Dan mungkin, diam-diam... juga keinginan yang mulai tumbuh di bawah kendali logika.
"Kamu sudah beristri Zayden!" Batinnya mengingatkan diri sendiri, sebelum akhirnya dokter yang ia panggil datang.
****