Tangan Marisha gemetar saat ia menuangkan wine ke dalam gelas kristal di meja riasnya. Suara percikan cairan terdengar lirih, nyaris tenggelam oleh desahan napasnya yang berat dan tidak beraturan. Tubuhnya bergetar, bukan karena suhu ruangan yang dingin, tapi karena satu hal yang baru saja menghantamnya. Masa lalu yang ia pikir sudah lama terkubur, kini muncul lagi di hadapan banyak mata.
Masa lalu yang muncul di saat hidupnya sudah hampir sempurna!
Dengan tangan lemah, ia mengangkat gelas itu ke bibirnya dan menenggak isinya tanpa jeda. Wajahnya pucat. Matanya masih terpaku pada layar ponselnya, menampilkan artikel berita yang sama seperti yang tadi secara mengejutkan muncul di layar besar acara ulang tahunnya.
Berita kematian Mike dan istrinya. Bunuh diri. Sepuluh tahun lalu.
"Kenapa bisa ada artikel itu? Aku yakin... itu bukan kebetulan!" bisiknya, nyaris seperti ratapan. Tiba-tiba, ia menjambak rambutnya sendiri, frustasi. "Mike... dia sudah mati! Tapi kenapa masih saja menghantuiku?"
Ia menatap pantulan dirinya di cermin, dan yang ia lihat adalah seorang wanita dengan riasan sempurna yang mulai luntur, seolah menggambarkan keadaannya jika masa lalunya terungkap. Marisha benar-benar tidak bisa menutupi kepanikan yang mulai menggerogoti kewarasannya.
"Kenapa hal-hal yang sudah kukubur rapi, kembali bangkit seperti ini?" gumamnya lirih, langkahnya mondar-mandir di kamar. "Apa ini karma? Tapi aku sudah menebus semuanya, kan?"
Tangannya gemetar saat menarik laci meja, mencari botol kecil yang sudah ia kenal sangat baik. Ia menelan satu butir antidepresan tanpa air, berharap tubuhnya berhenti bergetar, pikirannya berhenti memikirkan rahasia besar ia sembunyikan hingga kini.
Marisha menghela napas dalam, mencoba menenangkan diri.
"Putrinya masih hidup," ucapnya perlahan. Ketakutan mulai menjalar dalam benaknya. "Apa mungkin, dia tahu tentang aku? Apa ini bentuk balas dendam?"
Marisha kembali duduk, memeluk dirinya sendiri. "Tapi tidak mungkin. Dia masih kecil saat itu. Terlalu kecil untuk paham tentang perselingkuhanku dengan ayahnya. Mike selalu berkata jika putrinya tidak tahu, hanya istrinya yang memergoki perselingkuhan mereka."
Ia memejamkan mata, mengingat momen beberapa tahun lalu, saat ia mengutus beberapa orang menyamar sebagai petugas asuransi untuk menyerahkan sejumlah uang kepada anak itu. Saat itu gadis itu berusia tujuh belas tahun. Uang dalam jumlah besar, hasil dari menjual berlian hadiah ulang tahun dari Zayden. Berlian yang seharusnya jadi simbol cintanya.
"Aku bahkan mengorbankan hadiah paling berharga demi memastikan dia punya hidup layak," gumamnya getir. "Dia seharusnya sudah bahagia. Seharusnya tragedi itu terkubur bersama uang itu. Ratusan miliar, untuk sebuah kenangan buruk."
Ia mencibir, menyesap wine lagi. "Gadis itu mungkin sekarang sedang berfoya-foya, hidup mewah tanpa tahu siapa aku. Aku bahkan tak ingat wajahnya."
Namun saat matanya kembali menatap layar ponsel, logika itu mulai goyah. Ketakutan merayap dari balik pikirannya.
"Tapi kalau ini hanya artikel acak, kenapa ditampilkan bersamaan dengan fotoku, di hari ulang tahunku?" bisiknya pelan. "Katanya operator itu hanya hobi koleksi berita. Tapi kenapa bisa seakurat itu?" Ia menelan ludah. Tiba-tiba, kamar terasa sempit dan penuh bayangan.
"Aku tidak boleh panik," katanya pada dirinya sendiri. "Ini pasti hanya... kebetulan yang sial."
Sebelum keresahan itu sempat mereda, pintu kamar terbuka. Zayden masuk dengan langkah berat, kemeja putihnya sedikit kusut, dasi terlepas, dan wajah yang tampak lelah.
Marisha segera berdiri, menyambutnya dengan senyum manis dan sorot mata penuh harap. Ia mencoba menyembunyikan kegelisahan yang masih menari di ujung pikirannya. Tapi senyum itu sirna seketika ketika matanya menangkap noda mencolok di bagian d**a kemeja Zayden — bekas lipstik merah merona membentuk jejak bibir.
Seketika, jantung Marisha berdegup keras. Ia maju selangkah, dan plak! tangan kanannya menghantam tepat di atas noda itu, bukan dengan kekerasan, tapi dengan tekanan emosi yang meluap.
"Apa ini?" tanyanya tajam, suara bergetar.
Zayden terlihat kaget, lalu buru-buru menatap ke bawah. Wajahnya berubah ketika menyadari noda itu belum sempat ia hapus. Bukannya dia mau menyembunyikan sesuatu, tapi insiden yang dia alami dengan Irish sudah pasti membuat siapapun salah paham.
"Dengar, sayang, jangan salah paham. Aku tadi menabrak wanita tak dikenal saat di pesta. Dia jatuh, dan mengalami cedera kaki. Aku hanya bantu memanggil dokter, dan supir kita yang antar dia pulang."
"Bualanmu itu basi, Zayden!" Suara Marisha meninggi. Matanya mulai berkaca-kaca. "Kamu selingkuh, ya? Ngaku!"
"Aku jujur!" Zayden menahan nada suaranya tetap tenang meski terlihat jengah. "Aku hanya menabrak orang dan membantu dia. Kamu tidak percaya padaku?"
"Siapa yang percaya kalau buktinya ada di depan mata?" Marisha gemetar. "Apa karena aku susah hamil, kamu cari wanita lain? Karena aku ini korban pelecehan yang menjijikkan, dan tidak layak jadi istrimu?"
Air mata mulai jatuh di pipinya. Ia menahan suara tangisnya agar tidak pecah, tapi suaranya mulai melengking. "Kamu menyesal, kan? Menyesal menikahiku? Kamu ingin buang aku begitu saja?"
"Sayang..." Zayden menghela napas panjang. Ia menahan diri untuk tidak membalas dengan emosi. Ia tahu, Marisha sedang tidak bicara dari logika—tapi dari luka.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Aku tidak pernah berpikir seperti itu, bahkan sekali pun. Aku mencintaimu apa adanya. Dengan semua yang kamu bawa dari masa lalu. Bukankah kamu sudah jujur dari awal tentang pelecehan yang kamu alami? Jika aku tidak terima, aku tidak akan menikahimu sejak awal. Pelecehan itu bukan salahmu, tapi salah orang-orang b******k!"
Marisha tercekat. Napasnya tersengal, tubuhnya limbung. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung memeluk Zayden. Memeluk erat seolah ingin memastikan bahwa pria itu masih miliknya. Bahwa suaminya belum sepenuhnya tergoda wanita lain. Bahwa masa lalunya belum menghancurkan semuanya.
Marisha memang mengarang berbagai cerita kepada Zayden. Pria itu mengenalnya sebagai korban, bukan pelaku. Zayden begitu mencintainya, bahkan tidak pernah peduli dia tidak lagi virgin di malam pertama mereka. Jika Marisha tau dia akan menikah dengan konglomerat, dia akan menjaga nama baiknya.
Tapi tanpa uang Mike, Marisha juga tidak akan bisa menembus circle konglomerat. Hidupnya akan terus menjadi simpanan om-om berduit yang butuh kehangatan. Marisha menggunakan uang Mike untuk mengunjungi bar-bar mahal dan elit. Mencari pria yang bisa menjadi mangsanya. Dan ya, dia berhasil menemukan Zayden saat pria itu ada rapat dengan klien dari luar negri.
Marisha memang memeras Mike. Bahkan pria bodoh itu membelikannya rumah, apartemen, beberapa koleksi mobil, uang bulanan yang fantastis dan barang-barang mahal lainnya. Marisha menguras habis hartanya hingga dia bangkrut. Itulah kenyataan yang terjadi sebelum tragedi bunuh diri yang dilakukan Mike dan istrinya.
Untuk menjadi nyonya Malik, banyak sekali pengorbannannya. Marisha menutup mata rapat-rapat. Ia tahu, mungkin Zayden jujur tetang apa yang dia katakan malam ini. Noda lipstik itu mungkin memang tidak ada hubungannya dengan perselingkuhan. Tapi ia juga tahu, cepat atau lambat itu akan terjadi jika dia tidak segera memiliki anak.
"Aku harus punya anak," gumamnya dalam hati. "Jika aku punya anak, Zayden mungkin akan semakin mencintaiku. Dia juga akan memaafkan masa laluku yang sewaktu-waktu akan terungkap. Masa-masa saat aku masih menjadi wanita kedua. Saat aku masih mabuk pesta dan dikelilingi lelaki. Semua itu akan tertutup dengan statusku sebagai ibu dari anaknya."
Ia menarik napas panjang, menenggelamkan wajahnya ke d**a Zayden, tepat di atas noda lipstik yang belum terhapus. Satu hal yang pasti, Marisha tidak akan kalah. Siapapun lawannya!
****