Kami masuk bergandengan tangan ke dalam warung gubuk satu-satunya sepanjang jalan dari mobil kami mogok.
"Wahh! Pengantin baru..." ledek seorang ibu-ibu yang terus memperhatikan kami dari kejauhan, membuatku tersipu malu. Dan tanpa di duga aku melihat wajah mas Alvin kemerahan.
"Kalian belum punya anak, ya?" Tanya ibu-ibu itu lagi.
"Belum, Bu. Doain ya, Bu..." sahut mas Alvin sambil meraih tanganku dan membelai perutku. Dan adegan kecil ini benar-benar membuatku tak mampu membendung bulir bening di sudut mataku.
Aku terharu, mas Alvin begitu bangga ketika ada orang lain bertanya tentang hubungan kami. Jelas berbeda jauh dengan jawaban mas Reza yang selalu menjawab. 'Belum tentu dia jodohku...' jawaban itu setiap kali membuat jantungku merasakan nyeri.
"Insya Allah bulan depan dapat kabar baik..." ucap wanita tua itu tersenyum penuh arti. Dan di luar dugaanku, mas Alvin mengamini kalimat wanita itu.
"Masya Allah. Aamiin, Bu. Terimakasih doa baiknya. Semoga kami segera diberikan momongan..." sahut mas Alvin membuat mataku semakin berkaca-kaca. Andaikan semua ini nyata, andaikan dia adalah suamiku, andaikan pria yang menikahiku seperti mas Alvin
"Yuk, sini, Sayang..." aku di kejutkan oleh suara mas Alvin yang memintaku duduk di sebelahnya, di atas kursi kayu yang sudah tua.
Aku menoleh dan tersenyum kaku. Bagaimana tidak, aku merasa kalimat mas Alvin seperti mimpi.
"Kamu mau makan apa, Sayang?" Lalu menoleh ke arah sang penjual yang menunggu pesanan mereka. "Bu, buatkan teh hangat untuk istri saya dulu ya, sambil nungguin dia milih apa..." ucapnya membuat wanita-wanita desa yang ada di warung itu juga menatap kagum pada perhatian seorang suami pada istrinya.
"Oke, Nak. Kita di warung gak menyediakan banyak. Cuma ada soto sama lontong saja. Lontong sayur dan lontong pecel..." jawabnya dengan sopan.
"Kalau gitu, kasih kami soto keduanya, Bu..." jawab mas Alvin tanpa menunggu jawabanku. "Makan soto aja dulu, ya, Sayang. Biar gak masuk angin, nanti kalau masih mau makan lagi coba yang menu lainnya lagi…" jelasnya membuatku semakin terharu dengan sikapnya.
Astaga Tuhan...jangan sampai aku berharap bahwa semua ini nyata. Bisiku dalam hati.
"Oke, Mas."
"Bu, kalau ada teh telor, boleh kasih dua, Bu..." ucap mas Alvin lagi.
"Mas, aku ga mau teh telor..." rengekku tiba-tiba manja, seolah aku sedang mendalami peran.
"Gak pa-pa, gak enaknya sebentar aja, kok, Sayang. Yang penting badan seger setelahnya. Nanti keluar dari sini, baru kita beli vitamin, ya?" Ucapnya dengan sabar memberi perintah.
Ahh! Beginikah pesona seorang yang memang di tempah menjadi seorang pemimpin? Kenapa bisa membuat sebuah sandiwara terasa nyata dan candu?
"Ehmm...yaudah, Mas.." sahutku dengan tertunduk.
"Loh, emang dari mana toh, kok tadi jalan berdua?" Tanya ibu-ibu yang baru saja menaruh sendok pada piring di hadapannya.
"Mobil kami mogok, Bu, tadi malam. Dan kami mau ke Aldenia, Bu..."
"Loh, masih jauh to dari sini ke daerah Aldenia, dan di daerah sini ndak ada bengkel, Mas..." jawaban ibu itu sontak membuatku lemas.
"Gak ada bengkel, Bu?" Aku menyahut langsung menatap ke arah mas Alvin. "Gimana, Mas?"
"Rusaknya di deket tikungan sono, toh?" Tanya ibu-ibu itu langsung saling berpandangan.
"Iya, Bu. Bener..." sahut mas Alvin cepat.
"Hmm..." mereka saling pandang seolah memberi kode dan akhirnya menjawab. "Kalau gitu, tunggu tukang bengkel dari kota. Hubungi saja, Mas...."
Mas Alvin sepertinya tidak puas begitu saja dengan kalimat ibu itu.
"Ada apa emang, Bu? Di dekat tikungan itu?"
"Di sana sering banget kejadian mobil mogok tiba-tiba. Itu terkenal dengan tikungan jodoh, Mas..."
"Maksudnya, Bu?" Tanya mas Alvin tampak berapi-api, bahkan soto yang baru di hidangkan di atas meja tidak menggugah seleranya. Beliau masih penasaran dengan teka-teki yang di ucapkan penduduk sekitar,
Bersambung....