Kami keluar mobil dan mencoba berjalan menyusuri jalan raya, bergandengan tangan seolah dunia milik berdua, menikmati udara pagi di antara rimbunnya pepohonan hanya sekedar mencari tempat sarapan. "Fir, coba aku pinjem ponsel kamu. Aku mau minta bantuan temen..." pintanya dan aku menyodorkan ponselku ke mas Alvin.
"Passwordnya?" Tanyanya sambil melihat wallpaper di layar ponsel dimana aku hanya memasang foto tangan yang menunggu untuk di gapai.
Aku meraih ponsel itu dan menyodorkan kembali ke arahnya. Dia tampak fokus menekan sebuah angka dan menghubunginya. Sayangnya berkali-kali panggilan itu di abaikan.
"Hmm...sepertinya mereka sedang apel pagi..." ucapnya sambil terus berjalan menyusuri jalan aspal yang entah dimana ujungnya.
"Mas, kita gak nunggu di mobil aja, siapa tahu ada yang kenal mobil kamu trus bisa bantuin..." ucapku tiba-tiba, karena aku merasakan letih.
"Kita jalan aja gak dapet bantuan, apalagi kita cuma duduk di sana...." Sahutnya sambil terus memandangiku. "Kenapa, kamu capek?" Tatapnya padaku. Dan tanpa di duga, dia setengah jongkok membuatku kebingungan.
"Kenapa, Mas?"
"Kamu capek, kan?" Dia menoleh ke arahku.
"Trus?"
"Ya gendong sini, ayoo..." ajaknya memandangku lekat. Duh...aku benar-benar salah tingkah dibuatnya. Maklum saja, sebelumnya aku juga belum pernah di perlakukan semanis ini oleh pria manapun.
"Gak usah, Mas. Gak enak..."
"Sudah. Ayoo..." pangkasnya dan akhirnya aku berada di gendongannya.
Seperti anak kecil yang kelelahan, saat ini aku merasakan kehangatan yang tak akan aku lupakan seumur hidupku.
"Aku tahu, s**********n kamu pasti sakit buat jalan, kan? Maaf, ya? Aku tadi malam maksa banget...soalnya aku bener-bener gak bisa nahan diri lagi. Gak sadar kalau aku maksain kamu..." bisiknya dan kalimat itu membuat hatiku berdesir mengalun.
Hening beberapa saat, karena aku berusaha menenangkan jantungku yang semakin berdegub tak beraturan.
Bukan karena dia merupakan seorang pemimpin di tempat dinas suamiku. Tapi, karena sosoknya yang mampu membuat hatiku merasa hangat untuk pertama kalinya.
"Maaf, ya, Fira atas apa yang terjadi tadi malam, tapi kamu tenang aja, aku pasti akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu denganmu..." bisiknya lagi, sayangnya aku justru lebih antusias dengan pemandangan yang ada tak jauh dari kami.
"Mas! Lihat di depan kayaknya ada warung! Ada perumahan penduduk di sana..." aku menunjuk sebuah tikungan yang terlihat ada gubuk di pinggir jalan.
"Akhirnyaaaa...kita bisa ngisi perut. Aku benernya udah laper bangett..." bisiknya dan seketika aku tertawa mendengar kalimat polosnya.
"Kamu makan lumayan banyak tadi malam, Mas..." sahutku yang tiba-tiba merasa akrab hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.
"Aku emang banyak makan tadi malam, tapi kan tadi malem juga abis keluarin tenaga ekstra jadi, wajar sekarang kelaparan lagi...." Dia berkata sambil menoleh ke arahku dan menggoda..
"Empat ronde! Anjasss! Perdana aku bisa nge-gol in sampe sebanyak itu...perlu masuk rekor MURI gak sih?" Candanya spontan aku pun ikut tertawa.
"Dasar kamu..." aku melengos.
"Tapi, enak kan? Aku melihat kamu menikmatinya tadi malam, itu yang buat aku semakin bersemangat untuk bertempur..." sahutnya membuatku mempererat peganganku pada dadanya tanpa menjawab.
"Makasih, ya? Kamu udah memberikan aku pengalaman yang tak akan pernah bisa aku lupakan seumur hidupku..."
"Mas, turunin kita udah sampai..." ucapku perlahan dan dengan patuh komandan suamiku akhirnya menurunkan aku.