Jadi Candu

506 Kata
"Maksud kamu? Dia punya selingkuhan?" Genggaman tangannya erat padaku, seolah meyakinkan hatiku. "Bukan selingkuhan, Pak..." sahutku dengan menahan sesak di d**a yang aku rasakan. Bagaimanapun setiap kali aku mengingatnya entah mengapa d**a ini terasa sakit. "Maksudmu? Bukan selingkuhan bagaimana? Kamu kan istrinya?" Pria yang tengah memelukku ini terlihat kebingungan. "Kami di jodohkan, Pak. Dan mas Reza memang sudah pacaran lama dengan kakak tiri saya..." "Apaaa?! Sama kakak kamu?" Aku menghela nafas dan mengangguk. "Sudahlah, bapak istirhat saja, saya mau peras baju biar bisa cepat kering..." sahutku mencoba untuk bangkit karena tidak ingin lagi membahas apa yang membuat luka ini semakin menganga. Dengan refleks dia menarik tanganku dan mendekapnya erat. "Baiklah, kalau kamu belum siap bahas tentang pernikahan kamu. Tidak masalah..." dekapnya erat, dia mengecup dahiku. Sejenak aku merasakan hangat dan damai. Perasaan yang tidak pernah aku dapatkan dari suamiku. "Pak, saya mau pakai baju..." ucapku berbisik. "Fira...izinkan aku memelukmu begini. Dengan memelukmu aku merasakan kehangatan yang sudah lama tak aku rasakan.” Tatapnya lekat ke arahku. “Ayolah kita nikmati malam ini bersama..." bisiknya lagi membuatku luluh. Semurahan itu hatiku. Hal yang tidak pantas aku lakukan mengingat aku sudah menikah. Meskipun kondisi rumah tanggaku tidak baik-baik saja, tidak sseharusnya aku menikmati kehangatan ini. "Tapi, Pak..." "Sudahlah. Abaikan tentang moral dan agama. Biarlah damai mendekap malam panjang kita..." lengan kokoh itu kembali merengkuh bahuku, tanpa bisa aku tolak, aku menikmati kehangatan pria lagi itu. Menikmati tiap sentuhan di tubuhku dan desahan manjanya. Dan untuk pertama kalinya setelah pernikahan aku merasakan tidur dengan pulas. Tidur tanpa rasa takut akan murka mas Reza yang tidak suka ketika tanpa sengaja kalau tidur tanganku menyentuhnya. Tidur yang lelap sampai sinar matahari dan deru suara mesin mobil yang melintas membangunkan kami. "Firaa....kamu masih tidur?" Bisikan suara halus di iringi kecupan hangat mendarat di dahiku menyapa ku dengan penuh kasih. Aku mendongakkan wajahku. "Ehh, Pak..." aku memalingkan wajah, malu. "Jangan panggil bapak, mulai sekarang. Panggil saja aku Alvin. Alvin Dirgantara Abimana, oke?" Ucapnya membuatku menundukkan kepala. "Gak pantes kalau orang denger bisa kena gunjing saya..." aku hanya menyeringai. "Siapa yang berani gunjingin kamu. Aku mutasikan langsung mereka." Tegasnya lagi sambil mengakhiri kalimatnya dengan kecupan di punggung tanganku. "Ehmm..." aku mengelak. "Firaa..."panggilnya membuatku menoleh menatap wajah tampan dengan hidung mancung yang bertengger dengan kokoh di antara dua pipi mulusnya. "Iya, Pak..." "Hustt....panggil Alvin. Mas Alvin..."bisiknya sambil mencolek hidungku, aku memalingkan wajah menyembunyikan rona merah di wajah ketika dia menyebut dirinya mas Alvin, seketika hatiku bergetar lembut. "Ta-tapi..." "Sudahlah. Kita bersiap dulu. Aku bakalan cari bantuan..." ucapnya meraih pakaianku dan memberikannya ke tanganku. Dia duduk mengenakan pakaian lembabnya dan mengganti celana pendek yang ada di sana karena celana panjangnya masih basah. "Nih, minum dulu..." dia menyodorkan air mineral yang sudah dia minum kepadaku. Aku menerimanya dan meneguk perlahan "Hmm...nanti kita cari sarapan dekat-dekat sini sambil nunggu bantuan..." ucapnya membantuku mengancingkan kemeja yang aku kenakan. Sejenak aku merasa bahwa aku manusia yang beruntung mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari pria di hadapanku, meski hanya sejenak, setidaknya aku sudah pernah merasakannya. Dan aku cukup bersyukur untuk itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN