Aku sebelumnya tidak pernah percaya pada firasat sampai hari itu. Karena jika firasat memang nyata, maka seluruh tubuhku sudah menjerit sejak mas Alvin mengangkat wajahnya dan menatap anakku terlalu lama, seolah dunia di sekelilingnya tidak lagi ada dan matanya begitu fokus pada puteraku. Dan itu membuat detak jantungku kian meronta. Wanita di sampingnya merapatkan jemarinya ke lengan Alvin. Gerakannya anggun. Tenang. Wibawanya terasa bahkan tanpa kata. Dia cantik, bukan cantik biasa. Kecantikannya matang, berkelas, terawat oleh hidup yang tidak pernah kekurangan apa pun. Wanita sempurna yang pantas untuk pria seperti mas Alvin. Upsh! Tapi bukan Vannessa. Dan entah kenapa, kenyataan itu justru membuat dadaku semakin sesak. Artinya perasaan seseorang bisa berubah seiring berjalannya wak

