Sepeninggal mas Alvin aku dan mas Haris kembali ke rumah yang kami tinggali. Mas Haris mengemudi dan Leonel duduk di belakang. "Papa-papa tadi temen-temen Leon bilang katanya mereka lihat papa di TV sama mereka nonton film nya tante Dian..." ucap Leonel puteraku yang memang masih kurang fasih melafalkan huruf R nya. Tapi, anehnya aku justru kecanduan denagn kalimay yang keluar dari mulutnya. "Ohh, ya? Apa kata mereka tentang papa?" Tanya mas Haris menatap ke arah Leonel dengan senyum khas nya dan kemudian kembali fokus dengan stir kemudi. "Mereka idola sama papa, katanya mereka kalau sudah besar mau jadi dokter sehebat papa..." sahut puteraku yang memasng sangat dekat dengan mas Haris di banding aku. Aku melihat senyum mas Haris yang terpancar di wajahnya, senyum dari wajah yang tulus

