Meski berat perjalanan hidup ini, akhirnya seminggu sudah aku tinggal di rumah Bu Ratna. Mungkin, seminggu itu waktu yang terasa singkat bagi orang lain, tapi bagiku seperti hidup dalam bayangan yang terus mengintai. Mana aku harus tinggal di rumah orang lain yang baru aku kenal, tapi aku tidak punya pilihan, karena aku merasakan bahwa Jakarta tidak seramah Aldenia. Rumah Bu Ratna di gang sempit Jakarta Timur itu sederhana, dindingnya kusam, tapi hangat. Terlalu hangat untuk dunia yang sedang berusaha menelanku hidup-hidup. Apalagi Bu Ratna memperlakukanku seperti anak sendiri. Aku yang sedang mengalami morning sickness sangat terbantu dengan kehadiran Bu Ratna. Dengan sabar beliau menyiapkan makan pagi meski tahu aku sering hanya mampu menghabiskan beberapa sendok. Dia membelikanku s**u

