Bus melaju pelan menembus malam. Lampu jalan Jakarta menyala satu persatuu seperti mata yang mengawasi, dingin dan tak peduli. Aku duduk di kursi dekat jendela, waspada dengan sekitar, maklum saja aku membawa tas berisi uang meski aku peluk erat di balik jaket tapi tetap saja membuatku selalu waspada. Bau solar bercampur pendingin udara membuat kepalaku kembali berdenyut. Perutku mual sejak tadi, aku memang pemabuk kalau naik mobil. Mencium aroma nya saja membuatku ingin muntah. Maklum saja, mungkin karena aku jarang naik mobil. Tapi, ketika aku naik mobil mas Alvin semua aman saja. Mungkin karena rembutnya terawat jadi membuat yang menaiki bakalan nyaman. Wajahku semakin tak karuan karena mual ku semakin menjadi-jadi, biasanya tidak separah ini. Ahh mungkin ini karena aku lapar, pikirku

