Leonel mengucapkan kalimat-kalimat pujian dengan cepat, seolah hanya tambahan kecil yang tidak penting. "Tapi... rasanya Leon pengen deh temenan sama Om Alvin." Kalimat itu sederhana. Tidak dramatis. Tidak meminta izin. "Boleh, kan, Ma?" Imbuhnya lagi santai. Tapi dadaku terasa seperti diremas. Aku mencoba mengontrol emosiku dan tetap tenang di depan anakk. Aku menoleh ke samping, menatap wajah polos itu dengan penuh kasih sekaligus iba, karena dia bahkan permisi untuk sekedar berteman dengan ayah kandungnya. Matanya jujur, tanpa beban. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada kebingungan. Hanya ketulusan seorang anak yang merasa aman di dekat seseorang yang baru dia temui. Tapi, itu justru itu yang membuatku takut. Aku menelan ludah. "Temenan itu boleh, sama siapapun kita boleh berteman" j

