Malam itu, aku baru saja menyelesaikan mandi setelah berberes rumah dan bersiap untuk tidur. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tok! Tok! Tok! Sebuah ketukan pada pintu membuatku menautkan dahi, siapa gerangan malem-malem gini ngetuk pintu rumah. Kalau mas Reza gak mungkin bukan? Sejak kapan mas Reza pake minta bukain pintu, malah kalau bisa dia gak mau lihat wajahku dan kami gak pernah berpapasan. Lagian gak mungkin mas Reza. Kalau mas Alvin juga gak mungkin berani ke asrama malam-malam gini, terlebih dia adalah pemimpin di koramil ini, mana mungkin dia mau mencoreng nama baiknya. Lagian aku juga bukan orang yang akan dia perjuangkan sampai sedemikian rupa dengan backgroundku yang bukan siapa-siapa. Aku melirik jam, siapa tahu itu hanya suara halusinasiku, tapi ketukan itu be

